Minggu, 15 Agustus 2010

Sepenggal Pesan Harta Karun di Perairan Indonesia


Pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.
Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987). Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.

Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.

”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).

Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.

”Kami tidak mengetahui nilai lelang itu, tetapi kami sempat meminta dan mendapatkan 1.500 keramik untuk disimpan di Indonesia sebagai salah satu bentuk pelestarian peninggalan bawah air,” kata Widiati

Peninggalan bawah air

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.

National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).

Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.

”Dalam perjalanan, kapal-kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain, dan perang,” kata Widiati.

Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, di Indonesia ada enam daerah penemuan benda peninggalan bawah air, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bangka Belitung, Cirebon (pantai utara Jawa Barat), Kalimantan Barat, dan Rembang (pantai utara Jawa Tengah).

Misalnya, pada tahun 1989, di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, PT Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Panitia Nasional BMKT) mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang-barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang-barang yang berasal dari Dinasti Song (abad X-XIII) itu berbentuk mangkuk, piring, buli-buli, tempayan, cepuk, dadu botol, vas, dan kendi.

Tahun 2005, PT Adikencana Salvage atas seizin Panitia Nasional BMKT mengangkat 25.000 keramik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbang logam, dan tungku China.

Benda-benda serupa juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, perusahaan Jerman, menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah.

Menurut Widiati, temuan- temuan itu berasal dari abad X. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari ibu kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.

”Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” katanya.

Pada medio 2008 di Rembang, tepatnya di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, sejumlah warga pesisir menemukan perahu kuno relatif utuh di tambak yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Perahu itu berlebar 4 meter dan panjang 15,60 meter

Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu, menyatakan, perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670-780 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari teknologi pembuatan perahu, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.

Di perahu itu ditemukan pula benda-benda lain, seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan China berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antarpulau.

Saat ini, perahu itu dalam penanganan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Balai tersebut telah mengambil sejumlah contoh berupa kayu perahu, tanah, dan air di sekitar perahu untuk menentukan metode konservasi yang tepat.

Bukti sejarah

Direktorat Peninggalan Bawah Air dan Panitia Nasional BMKT tidak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Untuk itu, mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.

Widiati mengatakan, benda-benda peninggalan bawah air tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Artinya, kalau benda-benda itu dilarikan ke negara-negara lain, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.

Meskipun benda itu diam, mereka dapat memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan. Benda-benda tersebut sekaligus menjadi bukti nyata pelayaran yang pernah dilakukan beberapa bangsa.

”Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” kata Widiati.

Adapun bagi Manguin yang menekuni temuan perahu atau kapal, alat transportasi laut itu merupakan gambaran sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudra, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.

Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.

”Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin.
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Melacak Manusia Purba Gunung Kidul


Sejak 700 ribu tahun lalu Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, telah menjadi kompleks hunian manusia purba. Mereka tinggal di ceruk dan goa di wilayah perbukitan karst ketika mayoritas daerah lain di DIY masih tergenang air.
Akhir Agustus lalu Kompas menyusuri ceruk dan goa yang di dalamnya pernah ditemukan bukti hunian manusia prasejarah dengan berbekal data Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DI Yogyakarta.

Artefak tulang dan batu dengan mudah ditemui. Butuh perjuangan lebih keras menemukan lokasi goa dan ceruk yang umumnya terletak di tengah ladang pertanian tadah hujan atau hutan jati.
Apalagi tak ada petunjuk ceruk maupun goa tersebut sisa peninggalan zaman prasejarah. Dengan berpedoman alamat berupa nama dusun dari hunian prasejarah, kami mengunjungi sebagian dari ratusan bekas hunian makhluk prasejarah di Gunung Kidul.
Kami mengandalkan petunjuk warga yang masih mencari hijauan makanan ternak di antara tanaman jati yang meranggas pada musim kemarau. Warga desa umumnya mengenali nama ceruk-ceruk tersebut, tetapi jarang mengetahui sejarah ceruk.
Di perbatasan antara Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, seperti di Kecamatan Ponjong, kami menemukan beberapa ceruk yang pernah dihuni manusia purba. Ceruk atau goa payung itu memiliki sirkulasi udara yang baik, memperoleh cahaya matahari, dan dekat dengan sumber air berupa telaga atau sungai bawah tanah.

Song Bentar

Berada di mulut sebuah ceruk di Dusun Bentar, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, yang dinamai Song Bentar, keteduhan segera menelusup. Terik matahari tengah hari seperti diusir jauh oleh bayang-bayang ceruk. Stalaktit batu kapur putih mengilap bergelantungan di atap ceruk.
Song Bentar terletak di pucuk bukit karst. Hanya butuh lima menit berjalan kaki mendaki untuk mencapainya. Dari bawah bukit, ceruk itu terlihat seperti mulut naga yang menganga lebar. Pepohonan jati di depan ceruk menyamarkan bentuk utuh Song Bentar bila dilihat dari kaki bukit karst.
Warga sekitar, seperti Sagiyo dan Tumiyem, yang bermukim tepat di bawah Song Bentar, mengaku sama sekali tidak tahu menahu ceruk tersebut pernah menjadi hunian manusia purba sampai mereka dilibatkan dalam penggalian oleh para arkeolog. Sagiyo mengaku ikut membantu pengangkatan beberapa rangka manusia purba yang tubuhnya relatif utuh.
Menurut data Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DIY, di Song Bentar terdapat fragmen tengkorak dan tulang manusia purba Homo sapiens. Setidaknya ada delapan individu, terdiri dari lima dewasa, dua anak-anak, dan satu bayi. Beberapa alat batu, seperti batu giling, beliung persegi, dan mata panah pun banyak dijumpai di lokasi ini.
Sekitar 2 kilometer dari Song Bentar, yaitu di Dusun Kanigoro, Desa Tambakromo, Kecamatan Ponjong, terdapat hunian manusia purba lain, yaitu Song Blendrong. Ceruk ini menyerupai Song Bentar, tetapi jauh dari perkampungan penduduk dengan jalan beraspal yang masih bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat.
Song Blendrong juga kaya dengan artefak peninggalan manusia purba. Di Song Blendrong kami dikejutkan banyaknya tulang yang kemungkinan berasal dari manusia purba beserta peralatan dari batu, tanduk, maupun serut dari kerang berserakan di lantai ceruk.
Lantai Song Blendrong telah banyak digali untuk diambil kandungan fosfatnya sehingga artefak itu bermunculan ke permukaan. Para petani di sekitar mulut goa baru percaya setelah melihat sendiri tulang yang di berada sana.
Ceruk di Song Bentar sebenarnya juga pernah ditambang, tetapi penambangan fosfat tersebut berhenti setelah kandungan fosfat menyusut.
Keindahan ceruk dan goa prasejarah di Gunung Kidul ini memang terancam lenyap karena aktivitas pertambangan yang tidak terkendali. Apalagi goa dan ceruk prasejarah ini terletak di ladang milik penduduk setempat. Padahal, kehadiran ceruk dan goa dalam kealamiannya dapat memberikan gambaran kemampuan nenek moyang kita bertahan hidup dengan menyiasati alam.
Kami juga mengunjungi Goa Seropan di Dusun Semuluh, Desa Gombang, Kecamatan Semanu. Goa dengan aliran sungai bawah tanah itu hanya bisa ditelusuri menggunakan senter dan belum pernah diteliti para arkeolog, tetapi juga kaya dengan tulang purba.
Bersama rekan-rekan penelusur goa dari Acintyacunyata Speleological Club, kami menyusuri lorong baru di Goa Seropan yang sebelumnya tertutup lumpur. Lorong di kedalaman 60 meter dari permukaan tanah ini tiba-tiba muncul setelah banjir besar di sungai bawah tanah tahun lalu.
Seperti di bebatuan tepian aliran sungai bawah tanah pada lorong lama yang kaya cetakan tulang purba, lorong baru ini pun menyingkap potongan tulang kaki, gigi, dan rusuk mamalia yang belum diketahui jenisnya karena belum pernah diteliti.
mawar kusuma - kompas
Selengkapnya...

Minggu, 08 Agustus 2010

Kurang Dana, Warisan Budaya Bawah Air Tetap Dilelang

Warisan Budaya Bawah Air akan tetap dilelang walaupun menimbulkan kontroversi dari beberapa pihak, karena akan menjadi gudang jika semuanya dialihkan ke pemerintah.

“Benda yang ditemukan membutuhkan banyak dana, sedangkan dana dari pemerintah dirasa kurang,” kata Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro, di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (4/8/2010).

Hari mengatakan, dalam sambutan pembukaan Pameran “Warisan Budaya Bawah Air : Apakah Harus Dilelang ?” yang diselenggarakan oleh Panitia nasional Benda berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), berlangsung pada tanggal 4-15 Agustus 2010.

“Lelang merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini karena lelang memiliki kelebihan dibandingkan penjualan biasa, lelang bersifat terbuka, ada kepastian hukum, dapat dipertanggungjawabkan dan harga diharapkan lebih optimal,” kata bagian lelang Kementerian Keuangan, Ida Novianti, pada saat seminar dengan tema yang sama, di Museum Nasional, Jakarta.

Sebanyak 463 titik kapal tenggelam, data dari UNESCO sekitar 500 kapal tenggelam, 271.834 artefak yang berhasil diangkat oleh PT. Paradigma Putra Sejahtera/ “Cosmix Underwater Research Ltd” dari perairan utara Cirebon 2 kali gagal dilelang di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (5 Mei 2010 dan 21 Juni 2010), rencana lelang ke-3 akan dilaksanakan Juni 2010, Jika ketiga lelang tersebut gagal maka artefak akan dijual melalui balai lelang Internasional.

“Saya tidak setuju dengan adanya pelelangan warisan budaya bawah air, karena seharusnya dijadikan ‘culture goods’, bukan dijadikan ‘economic goods’, kecuali hasil penjualan nantinya untuk pelestarian bangsa Indonesia,” kata Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Dr. Supratikno Rahardjo, saat seminar Warisan Budaya Bawah Air : Apakah Harus Dilelang”, di Museum Nasional, Jakarta.

Pelelangan Warisan Budaya Bawah Air ini tentunya didukung oleh Undang-Undang yang mengatur tentang cagar budaya, tetapi sayangnya belum disosialisasikan secara mendalam, Undang-Undang yang ada saat ini adalah UU RI no.5/1992 tentang BCB (Benda Cagar Budaya) Pelestarian dan Perlindungan dan Kepres no.12/2009 tentang PANNAS (Panitia Nasional) BMKT untuk Pemanfaatan Ekonomi.

“Dua sampai tiga tahun kedepan, Indonesia belum memutuskan ratifikasi, dari negara di Asia, hanya Kamboja yang menandatangani perjanjian ratifikasi,” kata Wartawan Koran Kompas, Yurnaldi, pada saat seminar itu.

Pameran tersebut menghadirkan beberapa peninggalan bersejarah dari bawah laut seperti Pameran Koleksi Keramik Gambir (Jakarta), Pispot Situs Intan (Kepulauan Seribu), Situs Cirebon (abad 10 M), Situs Karang Heliputan, dan Situs Batu Hitam (Keramik glasir tiga warna dari China sekitar abad 6-9 M).
Surya Online
Selengkapnya...

Selasa, 13 Juli 2010

Cerita Sutaasoma


Raja Sri Mahaketu (seorang keturunan Kuru) di Hatina diancam oleh rombongan raksasa yang merusak dusun-dusun dan pertapaan-pertapaan. Menurut kepala Brahmin (munindra) hanya seorang putra keturunan raja sajalah yang dapat menghancurkan rombongan raksasa itu. Terdorong oleh pendapat itu, raja ingin mempunyai putra yang diharapkan itu. Raja melakukan yoga di hadapan Jina. Raja mendapatkan wahyu bahwa sang Bodhisatta sendiri yang akan menjadi putranya.

Tidak beberapa lama istri raja mengandung dan setelah sampai waktunya melahirkan seorang putra. Para dewa turun di dunia dan menghormatinya dan mengatakan bahwa sang Jina telah dilahirkan. Putra itu diberi nama Sutasoma.
Setelah Sutasoma menginjak dewasa apabila melakukan kebaktian agama di bawah pimpinan Sri Jineswarabajra, ia adalah guru sang raja. Raja berkeinginan Sutasoma segera menikah dan naik tahta, menggantinya sebagai raja. Sutasoma dipanggil raja, diberi tahu tentang kehendaknya itu. Raja menasehatinya bahwa :
• Sebagai raja harus mensejahterakan dunia.
• Dengan menikah dan memerintah berarti melaksanakan kemanunggalan dengan sang Budha.
• Seorang raja harus memberantas penyelewengan yang mengakibatkan kehancuran seluruh dunia.
Sutasoma menjawab bahwa ia sadar tentang kekurangannya untuk menerima beban berat menggantikan ayahnya. Untuk menambah kekurangan itu, hanya di pegungan keheningan akan dapat dicapai, bukan di tengah-tengah dunia ramai. Setelah mendapat kesempurnaan di tempat yang hening itu, ia akan dapat menyelamatkan dan memejukan kesejahteraan dunia.
Keinginan raja didukung oleh patih Jayendra, ia mengingatkan Sutasoma tentang beban berat yang dipikul ayah dan rakyatnya. Maka agar Sutasoma segera menggantikannya
dan segera menikah. Setelah mendapat keturunan dan pantas menggantikannya, maka bebas mengundurkan diri dan hidup di pertapaan. Pendapat patih didukung oleh Mahosadhi seorang pendeta keraton (purohita). Ia menambahkan bahwa keheningan dapat diraih dalam kehidupan berkeluarga sambil menurunkan putera dan melakukan yoga. Sutasoma tidak terpengaruh nasehat kedua orang itu, ia tetap berpendapat bahwa satu-satunya tempat untuk mencapai keheningan ialah di pegunungan.
Pengembaraan Sutasoma dimulai waktu tengah malam dengan diam-diam ia meninggalkan tempat tidurnya tanpa diketahui para penjaga pintu keraton. Raja dan ratu sangat sedih setelah mendapat laporan bahwa Sutasoma meninggalkan keraton.
Berbagai pengalaman didapatkan Sutasoma dalam pengembaraannya. Sutasoma telah melewatkan dusun-dusun dan sampai di kaki pegunungan. Pada waktu matahari tenggelam ia memasuki sebuah kuburan dan menghormati dewi Bhairawi di sebuah candi untuknya. Setelah melakukan yoga, Sri Widyatkarali (nama lain dari Bhairawi atau Durga) menampakkan dirinya dan menunduk di hadapan dan memuja Sutasoma, sebab ia telah dapat menaklukkan segala hawa nafsunya, ia adalah inkarnasi sang Budha. Sang Dewi mengajarkan mantra yang disebut Mahahredaya, mantra itu dapat menghancurkan segala kejahatan kekuatan musuh, segala macam penyakit dan kemalangan. Sang Dewi juga menunjukkan pertapaan Bhatara Guru di gunung Semeru. Setelah itu sang Dewi lenyap dari penglihatan.
Sutasoma melanjutkan perjalanan menuju ke puncak gunung Semeru seperti yang disarankan sang Dewi Durga. Setelah tujuh hari perjalanan sampailah ia di sebuah pertapaan gunung Semeru. Ia disambut pemimpin pertapaan bernama Kesawa. Dalam pembicaraan Kesawa menanyakan tujuannya Sutasoma sampai di pertapaan itu. Jawab Sutasoma minta petunjuk agar dapat mencapai puncak gunung Semeru.
Sutasoma melanjutkan perjalanan lebih lanjut, dan sampailah di pertapaan Budha yang dipimpin oleh Sumitra. Sutasoma mendapat penjelasan dari Sumitra. Ternyata Sumitra adalah paman ibunya (Prajnadhari). Kakak ibu Sutasoma adalah raja Kasi yang telah digantikan oleh putranya (Dasabahu). Adik perempuan Dasabahu bernama Candradewi merupakan calon istri yang tepat bagi Sutasoma.
Sutasoma minta kepada Sumitra tentang kehidupan raja Dasabahu. Diceritakan bahwa dulu ayahnya mengingini seorang anak yang gagah perkasa. Bersama dengan istrinya menuju ke pegunungan untuk bersemedi. Sang Brahma dengan wajah yang menakutkan menampakkan diri dan akan menelan mereka, akan tetapi ujian itu dapat mereka lalui. Kemudian sang Brahma menampakkan lagi dengan wajah yang ramah dan mangabulkan keinginan mereka yaitu mempunyai putra yang gagah perkasa. Raja dan permaisuri pulang ke keraton. Istri mengandung, melahirkan seorang putra dengan sepuluh lengan. Raja sedih akan kejadian itu, maka anak akan dibuang ke laut. Tiba-tiba putra berubah menjadi tampan, diberi nama Brahmaja (putra Brahma) atau Dasabahu (berlengan sepuluh). Setelah sampai waktunya Dasabahu naik tahta menggantikan ayahnya dan bersekutu yang setia dengan raja Hastina.
Sumitra melanjutkan ceritanya. Ketika Suciloma (raksasa menyerupai Kala) mengacau di seluruh permukaan bumi. Sang Jina (Budha) menjelma dalam diri pangeran Agrakumara, dapat mengalahkan Suciloma. Suciloma tidak dibunuh asal sanggup tidak mengganggu manusia. Suciloma menjadi putera raja Sudasa di Ratnakanda, menekuni terhadap sang Budha.
Rudra menampakkan diri dan marah terhadap juru masaknya karena menghidangkan masakan yang dimakan anjing. Jayantaka (Purusada = pelahap manusia) dapat dikalahkan oleh inkarnasi sang Budha yaitu Sutasoma. Setelah selesai bercerita Sumitra mendesak Sutasoma segera menjadi raja di Hastina. Tiba-tiba muncul dewi Bumi juga minta agar Sutasoma menyelamatkan bumi dari kehancuran Kali. Semua permintaan itu belum dapat merubah pendirian Sutasoma.
Sutasoma bersama Kesawa melanjutkan pengembaraannya, sampai di sebatang pohon Kepoh, kediaman anak Suciloma (berkepala gajah, berwatak buas, bernama Durmukha atau Gajamukha). Karena tidak mengindahkan nasehat Kesawa, Sutasoma mendekati pohon Kepoh, disambut dengan raungan yang menakutkan, perkelahian tak terhindarkan. Gajamukha dapat dikalahkan dan akhirnya menjadi murid Sutasoma.
Gajamukha dan Sutasoma diserang seekor naga. Gajamukha bermaksud membunuh naga tetapi dilarang oleh Sutasoma. Naga bersujud di hadapan Sutasoma. Sutasoma bertemu seekor harimau betina yang akan melahap anaknya sendiri. Maksud itu dihalang-halangi, Sutasoma sanggup dilahapnya sebagai gantinya. Dunia akan berkabung jika mendengar Sutasoma mati dilahap harimau. Oleh karena itu dewa Indra turun di dunia menghidupkan lagi Sutasoma. Akhirnya harimau menjadi murid Sutasoma.
Gajamukha, naga, dan harimau minta pelajaran tentang keheningan, apakah keheningan dapat dicapai lewat jalan kemurnian yang sempurna atau harus melewati kematian. Dijelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan kematian asal manusia mau berbuat baik terhadap sesama makhluk. Jalan yang harus dilalui dapat berupa hidup atau mati, yoga dan kebajikan.
Para dewa cemas sebab Jayantaka muncul kembali dengan niat kejahatannya. Indra mengutus sejumlah bidadari yang dipimpin Sukirna dan Tilottama untuk menggoda Sutasoma yang sedang bersemedi di puncak gunung Semeru. Usaha para bidadari gagal. Indra menjelma menjadi bidadari dan menggoda Sutasoma. Waktu Indra akan mencium kaki Sutasoma lenyap, tampak Wairocana di atas padma dikelilingi para Jina dan dewa. Setelah menerima segala pujian Wairocana menjadi Sutasoma kembali.
Sutasoma mengakhiri semedinya, sadar bahwa ia seorang Budha. Sutasoma ditemani Kesawa turun dari puncak Semeru menuju Bharata. Di tengah perjalanan bertemu Dasabahu yang sedang berkelahi dengan pengikut Purusada. Pengikut Purusada dapat dikalahkan, lari ke Sutasoma dan berjanji akan melepaskan watak jahatnya. Dasabahu merangkul Sutasoma dan meminta agar ia mengawini adiknya. Mereka bersama naik kereta melewati kraton Awangga yang telah dikalahkan oleh Dasabahu. Akhirnya mereka sampai di kraton Dasabahu.
Ketiga anak Dasabahu dikenalkan dengan Sutasoma di suatu danau. Dikatakan bahwa danau itu dulu dibuat oleh raja Jina (Wairocana) bersama istrinya Locana waktu masih di surga. Sekarang mereka turun ke bumi menjelma pada Sutasoma dan istrinya. Setelah beberapa waktu tinggal di kraton Dasabahu, mohon ijin kepada raja ingin menjenguk orang tuanya di Hastina.
Purusada sudah melahap sembilan puluh sembilan raja. Sekarang perhatiannya ditujukan ke raja Jayawikrama. Terjadi pertempuran, raja Jayawikrama meninggal, istri ikut meninggal terjun di api unggun.
Raksasa Purusada berserta raja sekutunya yaitu raja Kalingga, Magadha dan Awangga ke Hastina. Sutasoma menawarkan diri sanggup menjadi korban agar raja lainnya dapat diselamatkan. Terjadi pertempuran.
Kala bergembira karena Sutasoma sanggup menyerahkan diri. Kala berubah menjadi seekor naga akan menelannya, tetapi tidak jadi justru menjadi murid Sutasoma. Di bawah Sutasoma Kala dan Purusada hidup sebagai seorang biksu dan diberi pelajaran tentang dharma dan berbagai bentuk yoga.
Setelah beberapa waktu Sutasoma dan istrinya pulang ke surga Jina. Purusada menerima pahala karena tapanya sebagai murid Jina. Kala mendapat pangkat Pasupati. Ardana (putra Sutasoma) menggantikan ayahnya sebagai raja di Hastina.

Lontar Koleksi Museum Sonobudoyo, dikerjakan bersama DR. Riboet Darmosoetopo
Selengkapnya...

Senin, 12 Juli 2010

Ditjen PSDKP BBentuk Tim Terpadu, Lacak Pencarian BMKT Ilegal


Ditjen Pengasawan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) telah membentuk tim terpadu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan indikasi pencarian BMKT illegal di perairan Laut Jawa Utara Blanakan Subang, Jawa Barat yang diduga melibatkan Michael Hatcher. Tim terpadu ini juga terus melakukan pendalaman informasi untuk mengumpulkan bukti-bukti materiil dugaan pencurian 2.360 buah artefak kuno berupa piring dari Dinasti Ming.

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Dr. Ir. Aji Sularso mengemukakan, Tim terpadu telah melakukan pendalaman informasi dan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan. Termasuk di dalamnya, mendalami kasus pencarian BMKT yang diidikasikan illegal oleh oknum nelayan yang menggunakan dua buah kapal (KMN Alini Jaya dan KMN Asli Jaya) yang saat ini disimpan di Lanal Cirebon.

“Kasus tersebut akan ditangani PPNS Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Bareskrim Polri untuk penyidikan,” kata Aji Sularso, di Jakarta, belum lama ini.

Aji Sularso mengatakan, pembentukan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga asal Muatan Kapal Tenggelam (Panas BMKT) dilatarbelakangi terjadinya peristiwa pengangkatan muatan kapal Geldermalsen (milik VOC) di perairan Karang Heluputan, Kepulauan Riau pada tahun 1985-1986 yang dipimpin Michael Hatcher. BMKT yang berhasil diangkat berupa 126 batang emas lantakan dan 160.000 benda keramik dinasti Ming dan Qing.

BMKT ini kemudian dilelang di Balai Lelang Christie’s Amsterdam senilai US$ 17 juta. Nah, berdasarkan hal tersebut pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No,43 tahun 1989 tentang Pannas BMKT. Selain kegiatan pengangkatan BMKT yang dilakukan Michael Hatcher tanpa izin di perairan Karang Heluputan sekitar tahun 1985-1986, juga terjadi kembali kegiatan yang merugikan Indonesia di Selat Gelasa dekat Pulau Bangka yang dilakukan Tilman Walterfang yang dilelang di Nagel Auction Jerman senilai US$ 40 juta.

Nah, dengan adanya peristiwa pengangkatan BMKT illegal yang merugikan negara ini, tim terpadu terus melakukan pelacakan terhadap sejumlah laporan dari PT Comexindo Usaha Mandiri di perairan Laut Jawa Utara, Blanakan Subang, Jawa Barat yang diduga melibatkan Michael Hatcher.

Data PSDKP menyebutkan kurun 2001-2009 Ditjen PSDKP telah melakukan pengawasan survei di 32 lokasi dan pengawasan pengangkatan di delapan lokasi. Pada tahun 2010 pihaknya melaksamakan pengawasan survei PT Bangun Bahari Nusantara di perairan sebelah selatan Pulau Belitung dan pengawasan pengangkatan PT Comexinndo Usaha Mandiri di perairan Laut Jawa Utara Blanakan Subang, Jabar. (idt/pab)
Selengkapnya...