
Het is opvallend hoe de site van de Nederlandse Ambassade de viering van VOC-2002 benadert; een uitgebreide zoektocht langs onderwerpen, ook via de zoekmachine van hun site én bij de evenementen van het Erasmushuis levert NIL op.
Geen wonder want de Indonesiërs boycotten eenvoudig het lokale feestje.
Pada abad ke-16 Portugis dan Spanyol menguasai pelayaran ke Asia serta menguasai perdagangan rempah-rempah antara Asia dengan Eropa, khususnya perdagangan lada. Dalam perkembangan selanjutnya di Eropa, Raja Portugal memiliki kekuasaan tunggal atas pengangkutan dan pembelian hasil bumi dari Asia. Semua kontrak jual beli hasil bumi ditentukan harganya oleh Raja Portugal. Orang-orang Belanda yang dikenal sebagai pedagang merasa dirugikan oleh tindakan Portugal tersebut, dan akhirnya berusaha mencari jalan sendiri untuk menghindari monopoli perdagangan Portugal.
Atas inisiatif Staten-Generaal (semacam Dewan Rakyat) pada tanggal 20 Maret 1602 didirikan perusahaan dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Amsterdam, yang kemudian berkembang di berbagai kota lainnya. Para pedagang besar Belanda sebagai pemegang sahamnya. Dalam waktu hanya lima tahun VOC memiliki 15 armada yang terdiri dari 65 kapal yang memulai pelayarannya dari pelabuhan-pelabuhan Rotterdam, Amsterdam, Middelburg, Vlissingen, Veere, Delft, Hoorn dan Enkhuizen.
Sebelum terbentuknya VOC, ekspedisi Belanda pertama ke Asia telah melakukan tiga kali pelayaran antara tahun 1594 – 1596 namun mengalami kegagalan. Para pelaut banyak yang jatuh sakit karena keracunan makanan yang sudah membusuk. Kapal pertama Belanda mendarat di Banten tahun 1596, tetapi tidak mendapat rempah-rempah seperti yang diharapkan. Pelayaran selanjutnya ke Maluku (kapal “De Houtman” dan “Van Beuningen”) mengalami kegagalan juga, karena terjadi bentrokan fisik antara awak kapal dengan penduduk setempat sehingga banyak pelautnya yang mati. Pada tahun 1597 tiga dari empat kapal kembali ke Belanda dan dari 249 awak kapal hanya tinggal 90 orang yang masih hidup. Ekspedisi kedua dilakukan pada tahun 1598 dengan 8 buah kapal dibawah komando kapten kapal van Neck dan van Warwijk yang berhasil membawa rempah-rempah dalam jumlah besar dari kepulauan Maluku terutama dari Banda, Ambon dan Ternate.
VOC merupakan perusahaan multinasional yang pertama di dunia yang tersebar di banyak negara, dan dalam melaksanakan kegiatan perdagangannya tidak segan-segan melakukan tindakan-tindakan yang tidak beradab, termasuk pembunuhan terhadap penduduk dan memperlakukan penduduk asli sebagai budak tanpa rasa perikemanusiaan khususnya di Indonesia.
Persaingan antara Belanda dan Portugis dalam perdagangan rempah-rempah di kepulauan Maluku berakhir ketika Belanda berhasil membangun permukiman tetap dengan mengusir Portugal pada tgl 23 Februari 1605. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa Belanda berhasil menggantikan posisi Portugal mendapatkan sumber hasil bumi dari kepulauan Nusantara. Selama dua abad menguasai bumi Indonesia, VOC telah bertindak dan memerintah dengan menggunakan kekuasaan militer menekan dan mengadu-domba kerajaan-kerajaan setempat, memberlakukan hukumnya sendiri di seluruh Indonesia, memiliki pengadilan sendiri dan melakukan perdagangan monopoli yang sangat merugikan rakyat.
Bagi Belanda VOC merupakan kenyataan sejarah yang membanggakan karena memberi nilai tambah yang tidak kecil kepada rakyat Belanda, dan karena alasan itu Kementerian Pendidikan Belanda memprakarsai peringatan dan perayaan 400 tahun VOC secara nasional yang pelaksanaannya dilakukan oleh swasta di seluruh negeri. VOC juga dianggap telah membawa kemakmuran serta kekayaan kultur bagi negara Belanda, bahkan dianggap membawa cakrawala baru karena berhasil “menguasai” kawasan-kawasan dunia baru. VOC dinilai berhasil mendorong berbagai perkembangan kemasyarakatan, dan dengan mengarungi lautan telah memperkaya bangsa Belanda belajar tentang bangsa-bangsa lain. Untuk itu generasi muda Belanda harus mengetahui tentang apa arti dan bagaimana perwujudan VOC sebagai bagian dari karya nyata dan kejayaan bangsa Belanda di masa lalu. Peringatan dan perayaan 400 tahun VOC akan dilakukan di 6 kota dan dipusatkan di Ridderzaal melalui pameran dan penyediaan informasi tentang VOC sepanjang tahun 2002. Pihak Belanda telah melakukan pendekatan kepada pemerintah Afrika Selatan, Sri Lanka dan India agar ikut serta mengambil bagian memperingat dan merayakan 400 tahun VOC. Karena dianggap akan mengandung kepekaan politik, panita VOC tidak mengajak Indonesia, walaupun Belanda menyadari bahwa sebagian besar kegiatan dan keuntungan yang diraup VOC justru berasal dari Indonesia.
Pandangan terhadap peran VOC di Indonesia
Dr Gerrit Knaap dari KITLV (Belanda), dalam tulisannya berjudul “Dutch Perception of Indonesian History, Anno 2001” dalam sarasehan mengenai sejarah hubungan Indonesia-Belanda di KBRI Den Haag pada bulan Agustus 2001, a.l. mengatakan “Personally, I fully agree to the fact that the VOC in Indonesia was nothing more and nothing less than a colonial state. This was already imminent in the charter by which the VOC was founded in 1602, where it was stipulated by the government that this company not only should be the exclusive Dutch Organization to trade in the area between Cape of Good Hope and Cape Hoorn, but that also possessed the right to wage war, make peace and built fortress in that area. War, peace and fortress are attributes of a state, not of a trader.” Selanjutnya Dr Knaap menambahkan dalam tulisan yang sama bahwa … “the VOC as such is an organization with two faces, that of the merchant and that of the statesman”. Bahkan dia mengkhawatirkan tentang adanya sikap orang-orang di Belanda bahwa seolah-olah VOC hanya melaksanakan perdagangan saja di Indonesia, karena berarti orang-orang tersebut samasekali tidak tahu tentang sejarah yang sebenarnya.
Dr Anhar Gonggong sejarawan Indonesia, dalam kesempatan yang sama, a.l. mengatakan bahwa VOC merupakan simbol dari kehendak Belanda untuk mendapatkan keuntungan ekonomi-perdagangan sekaligus perluasan wilayah kolonialnya. Dr Anhar Gonggong menyitir pendapat Dr Verkuyl yang mengatakan : “Selama pemerintahan VOC, yang merupakan suatu kongsi dagang monopolistis yang dipersenjatai, yang memiliki kedaulatan atas wilayah-wilayah tertentu yang diperolehnya dengan merampas”.Apa yang dilakukan VOC di Indonesia, menurut Dr Anhar Gonggong merupakan tindakan awal dari kekuatan-kekuatan imperialis-kolonialistik. Dengan perkataan lain merupakan proses awal penancapan kekuasaan kolonialistik yang didorong oleh motif ekonomi-merkantil. Motif ini hanya bisa berhasil kalau didukung oleh pemerintah Belanda dengan memberi bantuan militer.
Sementara ilmuwan Belanda maupun Indonesia cukup banyak yang memiliki kesimpulan sama tentang peran VOC di Indonesia pada abad ke 16 dan 17 yaitu tidak terlepas dari politik kolonialisme Belanda, namun di pihak lain sampai sekarang masih cukup banyak pihak-pihak di Belanda yang beranggapan bahwa kolonialisme Belanda di Indonesia memiliki misi khusus, yang mereka sebutkan sebagai “misi suci” a.l. untuk :
1. men-civilized-kan orang-orang Indonesia yang masih primitif;
2. memberi kemakmuran kepada orang-orang Indonesia yang masih terbelakang,
3. mempersatukan orang-orang Indonesia yang selalu berkelahi antar mereka,
4. memberi pendidikan dan kemajuan rakyat Indonesia, dan
5. kedatangan VOC ke Indonesia semata-mata untuk berdagang saja.
Sikap pandang bangsa Indonesia terhadap peringatan 400 tahun VOC
Masalah peringatan maupun perayaan 400 tahun VOC merupakan urusan orang Belanda sendiri dan merupakan haknya untuk memperingatinya dan tidak ada hubungannya dengan kepentingan langsung bangsa Indonesia. Belanda sendiri yang mengakui bahwa peringatan itu mengandung kepekaan politik bagi Indonesia, yang sebenarnya secara eksplisit sebagai suatu pengakuan bahwa kehadiran VOC di Indonesia tidak disukai rakyat Indonesia. Pihak Belanda tidak pernah melakukan pendekatan formal kepada Indonesia untuk ikut memperingati atau merayakan 400 tahun VOC, walaupun berdasarkan informasi ada pihak-pihak swasta di Indonesia yang “bersedia” melakukannya demi aliran bantuan yang diberikan oleh pihak Belanda.
Bangsa Indonesia hendaknya melihat VOC sebagai bagian dari kolonialisme Belanda di Indonesia, dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia secara tegas menentang kolonialisme dalam bentuk apapun. Persoalan yang kita hadapi adalah tentang kewajaran dan kepantasan bagi bangsa Indonesia untuk ikut meramaikan peringatan atau perayaan 400 tahun VOC di bumi Indonesia sendiri, sementara kita tahu dan sadar bahwa kehadiran VOC di Indonesia telah memakan banyak korban harta dan jiwa rakyat Indonesia serta merupakan bagian dari kekuasaan kolonialistik.
Salah satu keberhasilan dan kesuksesan VOC menguasai seluruh wilayah Indonesia adalah melalui kemampuannya memanfaatkan sikap bangsa kita yang mudah diadu-domba karena keragaman etnis, dan juga menggunakan penguasa bangsa Indonesia sendiri untuk menekan rakyatnya. Apakah bangsa kita sekarang ini masih mau dan bersedia untuk terus dijadikan ajang adu-domba demi membela kepentingan asing, tentunya bangsa kita sendiri yang dapat menjawabnya. Perbedaan intern yang menimbulkan pertentangan bahkan konflik antar kita merupakan kelemahan yang harus kita akui, dan untuk menanggulanginya hanya dapat oleh kemauan kita sendiri.
Dengan dalih mengapa kita harus menghilangkan kesempatan menikmati bantuan, masih ada orang-orang di Indonesia yang berpendapat bahwa menolak untuk ikut memperingati 400 tahun VOC sebagai tingkah “pahlawan kesiangan” karena persoalan VOC sudah merupakan persoalan masa lalu. Masa lalu memang tidak perlu diungkit kembali apalagi kalau diikuti dengan pembalasan dendam, tetapi penglihatan terhadap masa lalu hendaknya juga tidak menghilangkan perasaan pengorbanan dan penderitaan rakyat terhadap kekuasaan asing yang lalim, seperti perasaan bangsa Belanda terhadap penjajahan Jerman.
Keinginan dan maksud Belanda untuk membangun kembali monumen kehadirannya di Indonesia pada masa-masa lalu tentunya perlu kita sambut, tetapi hendaknya pembangunan tidak dikaitkan dengan peringatan 400 tahun VOC. Keinginan membangun monumen Belanda itupun perwujudannya harus pula berimbang, karena bukan hanya kemegahan gedung secara fisik saja yang harus diperhatikan tetapi juga tempat-tempat dimana pihak Belanda pernah menyiksa bangsa Indonesia perlu dipertontonkan. Hal ini perlu diketahui oleh generasi muda di Indonesia dan Belanda, sebagai suatu pelajaran agar segala macam penindasan tidak terulang lagi.
Keadaan sudah berubah dan hubungan Indonesia dengan Belanda sudah semakin baik dan bangsa Belanda sudah menjadi sahabat bangsa Indonesia, apalagi masyarakat Belanda telah membantu ketika Indonesia sedang dalam keadaan sulit. Namun tentunya kita tidak perlu meninggalkan prinsip kita sendiri terhadap kolonialisme. Persahabatan adalah persahabatan, sedangkan prinsip adalah tetap prinsip. Kehadiran Belanda di bumi Indonesia adalah suatu kenyataan sejarah, dan sejarah hubungan kedua bangsa dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu yang buruk dan yang baik bagi keduabelah pihak.. Yang buruk harus dijadikan peringatan untuk tidak diulang lagi, sementara yang baik kalau perlu dapat kita sempurnakan. Generasi baru di Indonesia dan Belanda perlu mengerti perjalanan sejarah hubungan kedua bangsa sebagai monumen yang memiliki dua dimensi tersebut, untuk dapat dijadikan pelajaran positif agar tidak terulang kembali peristiwa yang pernah menyakitkan salah satu pihak
*Abdul Irsan, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda
Selengkapnya...
Jumat, 20 Agustus 2010
Indonesia dan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie)
MENCARI JURUS AMPUH MENANGKAL PENJARAHAN HARTA KARUN
Sejak dahulu kala Indonesia tersohor sebagai negeri maritim. Secara geografis pun letak Indonesia sangat strategis, yakni di jalur persimpangan perniagaan dunia. Tak mengherankan, jika lautan Nusantara banyak menyimpan harta karun dari kapal-kapal abad lampau yang karam.
Dus, pencurian harta karun kerap terjadi, terutama dalam satu dasawarsa terakhir. Perburuan harta karun pun tak kenal musim. Bayangkan, puluhan ribu harta peninggalan masa lampau dijarah dari dasar samudra. Pelakunya tak hanya dari dalam negeri, pihak asing pun turut bermain. Adapun nilai kerugian akibat pencurian itu sangatlah besar, paling tidak mencapai triliunan rupiah. Suatu jumlah yang besar mengingat saat ini Indonesia masih didera krisis.
Harta karun. Mendengar sebutannya saja pasti terbayang seonggok emas, keramik kuno atau benda berharga lainnya. Tentu ini menggiurkan banyak pihak. Tengok saja Kota Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Perairan Bangka Belitung pun strategis karena bertetangga dengan Selat Malaka. Sejak beberapa abad silam, bahkan ribuan tahun lampau selat ini merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lantaran itulah, sekitar perairan tersebut, tepatnya di dasar laut diyakini menyimpan banyak harta karun.
Alhasil perdagangan benda-benda yang diangkat dari kapal-kapal karam begitu marak di wilayah barat laut Indonesia ini. Sebut saja jual beli keramik-keramik bernilai historis tinggi. Kota Belitung pun kerap menjadi lokasi pertemuan antara penemu lokasi harta karun dan investor. Kedua pihak biasanya memakai jasa broker atau perantara. Salah satu broker adalah Ali. Ia kerap menjadi penghubung transaksi maupun rencana perburuan harta karun. Itu semua dilakukan di rumahnya.
Di Kota Belitung, geliat perburuan harta karun mulai dari keramik, porselin, patung hingga perhiasan memang sangat mencolok. Di sana terdapat banyak toko tak resmi bebas memperdagangkan benda-benda tersebut. Tak hanya pemain lokal yang memburu harta karun di Belitung. Sejumlah investor besar, juga pernah dan terus memburunya sampai kini.
Itu diakui Adi Agung, salah satu pengusaha pemburu harta karun. Ia mengaku pernah bekerja sama dengan warga Belitung untuk kepentingan eksplorasi harta karun. Namun setelah bekerja selama setahun setengah, pihaknya tak berhasil menemukan banyak benda kuno. "Ternyata memang banyak sekali diketemukan lokasi-lokasi [kapal karam]. Tapi isinya sudah tidak ada," papar Adi.
Perairan Belitung, terutama Selat Gelasa dan Selat Gaspar adalah dua tempat yang terkenal di mata pemburu harta karun atau benda muatan kapal tenggelam di dunia. Maklum di perairan ini diperkirakan ada puluhan kapal yang diduga tenggelam pada ratusan tahun silam. Nilainya paling sedikit dapat mencapai puluhan miliar rupiah.
Sayangnya hampir semua perburuan harta karun menyisakan kisah kelam. Mulai dari saling sikut antarpengusaha, konflik kepentingan penguasa hingga hasil penjarahan harta karun yang dibawa ke luar negeri.
Perburuan harta karun di perairan Belitung, bahkan menyeret-nyeret nama-nama besar pemburu harta karun dunia, seperti Michael Hatcher dan Tilman Walterfang. Hatcher, seorang pemburu harta karun kelas kakap dari Autralia berhasil mengangkat lebih dari 400 ribu keramik dari Dinasti Ching (1644-1911) dan membawanya terbang ke balai lelang di Jerman. Dari proyek pengangkatan harta karun kapal Tek Sing ini, Hatcher menangguk untung sekitar 6,5 juta mark Jerman atau setara Rp 32 miliar. Sementara pemerintah Indonesia hanya kebagian 1.400 keping keramik dan Rp 4,2 miliar.
Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Tilman Walterfang. Warga Jerman ini disebut-sebut mengeruk harta karun Kapal Tang Cargo hampir 50 ribu keping artefak. Umumnya berupa keramik asal abad IX Masehi. Nilainya ditaksir mencapai US$ 40 juta. Ironisnya, sebagai pemilik sah, Indonesia hanya kebagian lima persennya saja atau sekitar Rp 22 miliar. Itu pun setelah melalui negosiasi alot. Tilman sukses membawa kabur artefak kuno itu ke Selandia Baru dengan dalih desalinasi atau proses pencucian. Tapi harta karun itu tak pernah kembali ke Bumi Pertiwi.
Dalam penelusuran baru-baru ini, Tim Sigi SCTV menemukan dokumen izin pencucian ke Selandia Baru yang ditandatangani kepala Biro Umum Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan yang saat itu dijabat Handi Yohandi. Pemerintah Indonesia lagi-lagi kecolongan.
Anehnya perhatian serius justru datang dari pihak asing, seperti Peter Schwarts, ahli keramik Cina. Menurut dia, pihaknya sudah berusaha memberitahukan pemerintah Indonesia tentang pencurian harta karun dari lautan di Indonesia. Sayangnya informasi itu tidak mendapat respons.
Di Belitung, Tim Sigi mencoba mengais cerita tentang jejak Tilman. Namun yang ditemukan hanya bungalow yang disebut-sebut bekas base camp Tilman. Penelusuran dilanjutkan ke Pulau Babi. Di pulau yang tak jauh dari Pulau Belitung itu, ditemukan banyak pecahan-pecahan keramik. Dari ciri-ciri pecahan keramik, diduga benda-benda kuno itu berasal dari Dinasti Ching, sekitar abad ke-16 Masehi. Keramik-keramik ini bagian dari muatan Kapal Tek Sing yang dieksplorasi Hatcher.
Eksplorasi harta karun pun dilangsungkan di perairan Cirebon, Jawa Barat. Pengangkatan ini resmi diketahui pihak pemerintah. Kabarnya harta karun tersebut berasal dari muatan kapal kargo abad 10 Masehi. Kapal itu tenggelam dalam perjalanan dari Kerajaan Sriwijaya menuju Singosari. Menurut survei, kapal itu membawa puluhan ribu keramik kuno dan sejumlah lempeng emas. Nilainya ditaksir mencapai US$ 24 juta atau setara Rp 225 miliar.
Februari tahun depan, harta karun dari perairan Cirebon itu akan dilelang di Balai Lelang Christie`s Belanda. Inilah proyek eksplorasi pertama yang oleh pemerintah dipakai sebagai percontohan pengangkatan harta karun sesuai standar. "Suatu proses yang baik, tertata dengan baik, accountable, semua pihak tahu baru dirilis tahun ini," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.
Pengangkatan harta karun di perairan Cirebon, bukan tak menemui kendala. Sebelumnya, perusahaan pelaksana eksplorasi di perairan Cirebon, yakni PT Paradigma Putra Sejahtera milik Adi Agung, menerima sejumlah tudingan. Di antaranya tuduhan mempekerjakan tenaga asing ilegal. Tak hanya itu, menurut Adi, pihaknya juga dituding melakukan penjualan ilegal dan pencurian. "Kami dituduh melakukan pengangkatan dengan izin yang palsu," tambah Adi.
Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan menyebutkan di perairan Indonesia sedikitnya ada 463 titik tenggelamnya kapal sejak abad XIV hingga XIX. Dari jumlah itu belum banyak yang sudah diangkat dan memberi sumbangan pendapatan negara. Menurut Luc Heyman, investor asing, birokrasi bertele-tele menjadi salah satu kendala mereka. Belum lagi saling sikut di antara mereka yang kerap mewarnai perburuan harta karun di negeri ini.
Salah satu dampaknya, sejumlah tempat harta karun menjadi perburuan tidak resmi antarpencinta benda antik. Hal ini bisa terjadi karena banyak harta karun justru dieksplorasi secara diam-diam oleh penyelam tradisional. Itu diakui Hendro, kolektor keramik. Hendro mengaku beberapa benda koleksinya diperoleh dari para penyelam tradisional yang mendatangi rumahnya.
Perburuan di perairan Bangka Belitung, banyak mengandalkan para penyelam tradisional, terutama para nelayan yang biasa memasang perangkap ikan di dasar laut. Di antaranya Albert dan Beni. Tiga bulan silam, mereka menemukan bangkai kapal di Teluk Gelasa, dekat Kepulauan Bangka Belitung. Kapal yang teronggok di kedalaman 30 meter itu dipenuhi muatan, seperti keramik, porselin hingga senjata. Tim Sigi membuktikan adanya bangkai kapal yang belum jelas asal-muasalnya itu. Di sekitar kapal tersebut ditemukan harta karun berceceran, seperti piring dan botol keramik.
Temuan itu membuktikan bahwa potensi harta karun yang terkubur di dasar lautan Indonesia belum tergarap dengan baik. Tak heran pencurian dan pengangkatan ilegal terus marak. Hal itu diakui Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi. Menurut dia, hampir di seluruh perairan Indonesia, terdapat kapal-kapal yang karam pada beberapa abad silam. Paling banyak terdapat di wilayah paling barat Indonesia. "Kita sudah tahu tiap lokasi dan nama jenis kapal ada datanya," kata Freddy.
Freddy mengatakan, terdapat 700 sampai 800 titik harta karun yang potensial untuk diangkat. Namun diakui yang teridentifikasi baru 463 titik. Sampai sekarang lebih kurang sekitar 46 titik yang sudah diangkat atau sekitar 10 persen. "Tapi yang terjual melalui proses pelelangan dengan baik belum ada. Baru direncanakan tahun ini kerja sama dengan [Balai Lelang] Christie`s," tambah dia.
Freddy mengatakan, pengelolaan harta karun dari kapal karam tidak berjalan baik karena maraknya pencurian tersebut. Jika sudah terkena kasus pencurian, barang itu akan anjlok di pasaran. Seperi pengangkatan di Pulau Buaya oleh perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Karena terkena kasus pencurian, harga benda-benda yang diangkat anjlok. Barang-barang seperti itu jumlahnya banyak. "Ada ribuan potong yang tersimpan di beberapa tempat. Akhirnya diberikan ke museum," jelas Freddy.
Untuk ke depan, Freddy mengatakan, tak menutup kemungkinan pemerintah bekerja sama dengan pihak asing, seperti pemburu harta karun sekelas Hatcher. Tentunya harus melalui izin atau proses yang benar.
Sepanjang waktu perdagangan harta karun memang tak pernah sepi. Maklum, beratus atau beribu tahun lampau, lebih dari 450 kapal bermuatan dikabarkan terkubur di dasar lautan Indonesia.
Namun harta karun itu bukanlah harta tak bertuan. Sepanjang berada di wilayah kekuasaan Indonesia, berapa pun nilai ekonomi dan sejarahnya, tetap itu milik negara. Pengangkatan harta karun secara ilegal oleh siapa pun semestinya tak boleh terjadi lagi. Dan, lebih bijaksana pula, pemerintah segera menyiapkan "jurus ampuh" menangkal penjarahan tersebut.(DEN/Tim Sigi)
Liputan 6 SCTV
Selengkapnya...
Minggu, 15 Agustus 2010
Hatcher dan Beking Maut
Michael Hatcher muncul lagi dalam urusan bangkai kapal. Kali ini dia menggandeng mantan petinggi militer dalam bisnis harta karunnya.
Isi ruangan terlihat mulai dikemasi malam itu. Tumpukan buku dan disket sudah disusun di meja. "Saya sudah tak punya hak lagi di kamar ini," kata Syafri Burhanudin, Direktur Riset dan Eksplorasi Sumber Daya Nonhayati Laut, Departemen Perikanan dan Kelautan, pekan lalu. Beberapa hari sebelumnya, dua jabatannya sekaligus dicopot, yakni sebagai Direktur dan Ketua Tim Teknis Panitia Nasional Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam (Pannas), yang mengurus izin pengangkatan harta karun di laut.
Apa kesalahan ahli kelautan dari Universitas Hasanuddin Makassar itu? Menurut bisik-bisik di Departemen Perikanan dan Kelautan, Syafri tergusur karena menghalangi pengangkatan bangkai kapal yang tampaknya didukung sejumlah mantan petinggi tentara. Para mantan petinggi ini adalah satu angkatan Menteri Freddy Numberi di Angkatan Laut.
Bagi Syafri, sikap kerasnya mempunyai dasar. Perusahaan para mantan laksamana itu menggaet Michael Hatcher, 64 tahun, yang beberapa kali "menipu" pemerintah. Kasus pertama Hatcher dengan pemerintah terjadi dalam kasus pengangkatan bangkai kapal Gerdelmalsen, 1985. Pemerintah Indonesia mengaku sebagai pemilik sah reruntuk kapal dagang Belanda tersebut karena ia karam di perairan Karang Heloputan, di arah tenggara Pulau Bintan. Hatcher mengklaim bahwa pengangkatannya berada di perairan internasional. Izin pengangkatan yang diperolehnya pun dari pemerintah Belanda. Untuk menegasikan tuntutan Indonesia, muatan Gerdemalsen pun disulap namanya menjadi Nanking Cargo. Dari nilai muatan US$ 17,5 juta ini, Indonesia tak kecipratan satu sen pun. Dosa kedua, pada 1999, dalam kasus kapal Teksing. Pengangkatan di perairan Selat Gelasa Bangka itu dilakoni dengan dokumen palsu.
Tampaknya Indonesia adalah ladang harta karun bagi pria kelahiran Inggris yang berstatus warga negara Australia ini. Kekayaan dan ketenaran diperolehnya dari lautan biru khatulistiwa. Karenanya, dengan berbagai cara, ia mencoba kembali.
Pada awal Januari 2001, Michael Hatcher diketahui kembali beroperasi di perairan Tidore-Ternate, digandeng oleh PT Tuban Oceanic Research and Recovery. Kegiatan ini di luar kontrol Panitia Nasional, karena ketika pihak TORR mengajukan permohonan security clearance, nama Hatcher tidak ada. Belakangan diketahui terjadi pengangkatan. Namun, ketika diributkaan, PT Tuban membuat pernyataan kepada Dirjen Imigrasi, Juni 2002, bahwa mereka bukan penjamin Michael Hatcher. Pengangkatan itu, katanya, tanpa sepengetahuan mereka. Oleh Pannas, pernyataan PT Tuban diduga hanya akal-akalan.
Tiba-tiba, Oktober 2004, PT Marindo Alam Internusa, sebuah perusahaan pengangkatan baru, mengajukan permohonan izin survei ke Panitia Nasional. Di situ tertulis nama Michael Hatcher sebagai pemimpin survei dilampiri berbagai macam dokumen kerja. Permintaan ini mengejutkan, karena di belakang Marindo ada setumpuk nama pensiunan laksamana, bahkan seorang mantan kepala staf AL. Sementara itu, siapa pun tahu, Hatcher masuk daftar hitam di Indonesia. Bagaimana mungkin, perwira yang dulu memburu Hatcher kini bersekutu dengan buronnya.
Direktur Utama Marindo, Laksamana Muda (Purn) Heribertus Sudiro, punya alasan sendiri. Menurut Sudiro, seperti tertulis dalam suratnya ke Panitia Nasional, Hatcher sudah mendapat lampu hijau dari Menteri Kelautan Rokhim Dahuri (saat itu) ketika nama itu disodorkan oleh Dewan Komisaris perusahaan tersebut. Selain itu, tak ada bukti warga negara Australia itu terkena cekal. Bahkan Hatcher sudah punya izin kerja. Buktinya, Hatcher sama sekali tidak mendapat kesulitan melakukan survei di perairan Jepara.
Namun, ketika tim Panitia Nasional melakukan pengecekan ulang, ditemukan dokumen kerja Hatcher adalah dokumen bodong. Izin yang diakui atas nama Hatcher, setelah diperiksa di Departemen Tenaga Kerja, ternyata milik orang lain. Alamat Marindo juga fiktif. Dalam dokumen Hatcher, perusahaan itu mencantumkan alamat Jalan Tulodong Atas Senayan. Padahal, alamat asli Marindo adalah Kelapa Gading. Rokhmin juga mengelak telah memberi lampu hijau. "Saya sudah lupa," katanya.
Belakangan, setelah ribut-ribut di Departemen Perikanan dan Kelautan, yang menyebabkan Syafri terpental dari kursinya, Sudiro berbalik sikap. "Saya tidak kenal Michael Hatcher. Nama itu saya tidak tahu," katanya pada Edy Can dari Tempo. Ia juga membantah perusahaannya bergerak di bisnis pengangkatan harta karun. "Bisnis saya di bidang perikanan," ujarnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi selaku Ketua Panitia Nasional menyatakan sudah memberi masukan pada koleganya di Marindo Alam untuk tak mempekerjakan Hatcher. "Jangan sampai dia menyelam di Indonesia. Kalau sebagai konsultan sih bisa," katanya. Itu pun, kata Freddy, Hatcher tak bisa berkantor di Jakarta. "Silakan saja di luar. Kan dia (Hatcher) punya kantor di Singapura."
Hatcher sendiri tak diketahui keberadaannya. Tapi kepada seorang kawan yang pernah membantunya mengangkat kapal Teksing ia pernah berkorespondensi. "Saya berusaha untuk secara legal mendapatkan izin ke Indonesia. Saya ingin kembali ke Indonesia," katanya.
Arif A. Kuswardono, Edy Can, Indra Darmawan
Selengkapnya...
Sepenggal Pesan Harta Karun di Perairan Indonesia

Pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.
Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987). Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.
Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.
”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).
Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.
”Kami tidak mengetahui nilai lelang itu, tetapi kami sempat meminta dan mendapatkan 1.500 keramik untuk disimpan di Indonesia sebagai salah satu bentuk pelestarian peninggalan bawah air,” kata Widiati
Peninggalan bawah air
Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.
National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).
Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.
”Dalam perjalanan, kapal-kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain, dan perang,” kata Widiati.
Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, di Indonesia ada enam daerah penemuan benda peninggalan bawah air, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bangka Belitung, Cirebon (pantai utara Jawa Barat), Kalimantan Barat, dan Rembang (pantai utara Jawa Tengah).
Misalnya, pada tahun 1989, di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, PT Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Panitia Nasional BMKT) mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang-barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang-barang yang berasal dari Dinasti Song (abad X-XIII) itu berbentuk mangkuk, piring, buli-buli, tempayan, cepuk, dadu botol, vas, dan kendi.
Tahun 2005, PT Adikencana Salvage atas seizin Panitia Nasional BMKT mengangkat 25.000 keramik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbang logam, dan tungku China.
Benda-benda serupa juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, perusahaan Jerman, menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah.
Menurut Widiati, temuan- temuan itu berasal dari abad X. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari ibu kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.
”Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” katanya.
Pada medio 2008 di Rembang, tepatnya di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, sejumlah warga pesisir menemukan perahu kuno relatif utuh di tambak yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Perahu itu berlebar 4 meter dan panjang 15,60 meter
Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu, menyatakan, perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670-780 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari teknologi pembuatan perahu, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.
Di perahu itu ditemukan pula benda-benda lain, seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan China berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antarpulau.
Saat ini, perahu itu dalam penanganan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Balai tersebut telah mengambil sejumlah contoh berupa kayu perahu, tanah, dan air di sekitar perahu untuk menentukan metode konservasi yang tepat.
Bukti sejarah
Direktorat Peninggalan Bawah Air dan Panitia Nasional BMKT tidak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Untuk itu, mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.
Widiati mengatakan, benda-benda peninggalan bawah air tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Artinya, kalau benda-benda itu dilarikan ke negara-negara lain, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.
Meskipun benda itu diam, mereka dapat memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan. Benda-benda tersebut sekaligus menjadi bukti nyata pelayaran yang pernah dilakukan beberapa bangsa.
”Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” kata Widiati.
Adapun bagi Manguin yang menekuni temuan perahu atau kapal, alat transportasi laut itu merupakan gambaran sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudra, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.
Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.
”Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin.
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...
Selasa, 13 Juli 2010
Cerita Sutaasoma

Raja Sri Mahaketu (seorang keturunan Kuru) di Hatina diancam oleh rombongan raksasa yang merusak dusun-dusun dan pertapaan-pertapaan. Menurut kepala Brahmin (munindra) hanya seorang putra keturunan raja sajalah yang dapat menghancurkan rombongan raksasa itu. Terdorong oleh pendapat itu, raja ingin mempunyai putra yang diharapkan itu. Raja melakukan yoga di hadapan Jina. Raja mendapatkan wahyu bahwa sang Bodhisatta sendiri yang akan menjadi putranya.
Tidak beberapa lama istri raja mengandung dan setelah sampai waktunya melahirkan seorang putra. Para dewa turun di dunia dan menghormatinya dan mengatakan bahwa sang Jina telah dilahirkan. Putra itu diberi nama Sutasoma.
Setelah Sutasoma menginjak dewasa apabila melakukan kebaktian agama di bawah pimpinan Sri Jineswarabajra, ia adalah guru sang raja. Raja berkeinginan Sutasoma segera menikah dan naik tahta, menggantinya sebagai raja. Sutasoma dipanggil raja, diberi tahu tentang kehendaknya itu. Raja menasehatinya bahwa :
• Sebagai raja harus mensejahterakan dunia.
• Dengan menikah dan memerintah berarti melaksanakan kemanunggalan dengan sang Budha.
• Seorang raja harus memberantas penyelewengan yang mengakibatkan kehancuran seluruh dunia.
Sutasoma menjawab bahwa ia sadar tentang kekurangannya untuk menerima beban berat menggantikan ayahnya. Untuk menambah kekurangan itu, hanya di pegungan keheningan akan dapat dicapai, bukan di tengah-tengah dunia ramai. Setelah mendapat kesempurnaan di tempat yang hening itu, ia akan dapat menyelamatkan dan memejukan kesejahteraan dunia.
Keinginan raja didukung oleh patih Jayendra, ia mengingatkan Sutasoma tentang beban berat yang dipikul ayah dan rakyatnya. Maka agar Sutasoma segera menggantikannya
dan segera menikah. Setelah mendapat keturunan dan pantas menggantikannya, maka bebas mengundurkan diri dan hidup di pertapaan. Pendapat patih didukung oleh Mahosadhi seorang pendeta keraton (purohita). Ia menambahkan bahwa keheningan dapat diraih dalam kehidupan berkeluarga sambil menurunkan putera dan melakukan yoga. Sutasoma tidak terpengaruh nasehat kedua orang itu, ia tetap berpendapat bahwa satu-satunya tempat untuk mencapai keheningan ialah di pegunungan.
Pengembaraan Sutasoma dimulai waktu tengah malam dengan diam-diam ia meninggalkan tempat tidurnya tanpa diketahui para penjaga pintu keraton. Raja dan ratu sangat sedih setelah mendapat laporan bahwa Sutasoma meninggalkan keraton.
Berbagai pengalaman didapatkan Sutasoma dalam pengembaraannya. Sutasoma telah melewatkan dusun-dusun dan sampai di kaki pegunungan. Pada waktu matahari tenggelam ia memasuki sebuah kuburan dan menghormati dewi Bhairawi di sebuah candi untuknya. Setelah melakukan yoga, Sri Widyatkarali (nama lain dari Bhairawi atau Durga) menampakkan dirinya dan menunduk di hadapan dan memuja Sutasoma, sebab ia telah dapat menaklukkan segala hawa nafsunya, ia adalah inkarnasi sang Budha. Sang Dewi mengajarkan mantra yang disebut Mahahredaya, mantra itu dapat menghancurkan segala kejahatan kekuatan musuh, segala macam penyakit dan kemalangan. Sang Dewi juga menunjukkan pertapaan Bhatara Guru di gunung Semeru. Setelah itu sang Dewi lenyap dari penglihatan.
Sutasoma melanjutkan perjalanan menuju ke puncak gunung Semeru seperti yang disarankan sang Dewi Durga. Setelah tujuh hari perjalanan sampailah ia di sebuah pertapaan gunung Semeru. Ia disambut pemimpin pertapaan bernama Kesawa. Dalam pembicaraan Kesawa menanyakan tujuannya Sutasoma sampai di pertapaan itu. Jawab Sutasoma minta petunjuk agar dapat mencapai puncak gunung Semeru.
Sutasoma melanjutkan perjalanan lebih lanjut, dan sampailah di pertapaan Budha yang dipimpin oleh Sumitra. Sutasoma mendapat penjelasan dari Sumitra. Ternyata Sumitra adalah paman ibunya (Prajnadhari). Kakak ibu Sutasoma adalah raja Kasi yang telah digantikan oleh putranya (Dasabahu). Adik perempuan Dasabahu bernama Candradewi merupakan calon istri yang tepat bagi Sutasoma.
Sutasoma minta kepada Sumitra tentang kehidupan raja Dasabahu. Diceritakan bahwa dulu ayahnya mengingini seorang anak yang gagah perkasa. Bersama dengan istrinya menuju ke pegunungan untuk bersemedi. Sang Brahma dengan wajah yang menakutkan menampakkan diri dan akan menelan mereka, akan tetapi ujian itu dapat mereka lalui. Kemudian sang Brahma menampakkan lagi dengan wajah yang ramah dan mangabulkan keinginan mereka yaitu mempunyai putra yang gagah perkasa. Raja dan permaisuri pulang ke keraton. Istri mengandung, melahirkan seorang putra dengan sepuluh lengan. Raja sedih akan kejadian itu, maka anak akan dibuang ke laut. Tiba-tiba putra berubah menjadi tampan, diberi nama Brahmaja (putra Brahma) atau Dasabahu (berlengan sepuluh). Setelah sampai waktunya Dasabahu naik tahta menggantikan ayahnya dan bersekutu yang setia dengan raja Hastina.
Sumitra melanjutkan ceritanya. Ketika Suciloma (raksasa menyerupai Kala) mengacau di seluruh permukaan bumi. Sang Jina (Budha) menjelma dalam diri pangeran Agrakumara, dapat mengalahkan Suciloma. Suciloma tidak dibunuh asal sanggup tidak mengganggu manusia. Suciloma menjadi putera raja Sudasa di Ratnakanda, menekuni terhadap sang Budha.
Rudra menampakkan diri dan marah terhadap juru masaknya karena menghidangkan masakan yang dimakan anjing. Jayantaka (Purusada = pelahap manusia) dapat dikalahkan oleh inkarnasi sang Budha yaitu Sutasoma. Setelah selesai bercerita Sumitra mendesak Sutasoma segera menjadi raja di Hastina. Tiba-tiba muncul dewi Bumi juga minta agar Sutasoma menyelamatkan bumi dari kehancuran Kali. Semua permintaan itu belum dapat merubah pendirian Sutasoma.
Sutasoma bersama Kesawa melanjutkan pengembaraannya, sampai di sebatang pohon Kepoh, kediaman anak Suciloma (berkepala gajah, berwatak buas, bernama Durmukha atau Gajamukha). Karena tidak mengindahkan nasehat Kesawa, Sutasoma mendekati pohon Kepoh, disambut dengan raungan yang menakutkan, perkelahian tak terhindarkan. Gajamukha dapat dikalahkan dan akhirnya menjadi murid Sutasoma.
Gajamukha dan Sutasoma diserang seekor naga. Gajamukha bermaksud membunuh naga tetapi dilarang oleh Sutasoma. Naga bersujud di hadapan Sutasoma. Sutasoma bertemu seekor harimau betina yang akan melahap anaknya sendiri. Maksud itu dihalang-halangi, Sutasoma sanggup dilahapnya sebagai gantinya. Dunia akan berkabung jika mendengar Sutasoma mati dilahap harimau. Oleh karena itu dewa Indra turun di dunia menghidupkan lagi Sutasoma. Akhirnya harimau menjadi murid Sutasoma.
Gajamukha, naga, dan harimau minta pelajaran tentang keheningan, apakah keheningan dapat dicapai lewat jalan kemurnian yang sempurna atau harus melewati kematian. Dijelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan kematian asal manusia mau berbuat baik terhadap sesama makhluk. Jalan yang harus dilalui dapat berupa hidup atau mati, yoga dan kebajikan.
Para dewa cemas sebab Jayantaka muncul kembali dengan niat kejahatannya. Indra mengutus sejumlah bidadari yang dipimpin Sukirna dan Tilottama untuk menggoda Sutasoma yang sedang bersemedi di puncak gunung Semeru. Usaha para bidadari gagal. Indra menjelma menjadi bidadari dan menggoda Sutasoma. Waktu Indra akan mencium kaki Sutasoma lenyap, tampak Wairocana di atas padma dikelilingi para Jina dan dewa. Setelah menerima segala pujian Wairocana menjadi Sutasoma kembali.
Sutasoma mengakhiri semedinya, sadar bahwa ia seorang Budha. Sutasoma ditemani Kesawa turun dari puncak Semeru menuju Bharata. Di tengah perjalanan bertemu Dasabahu yang sedang berkelahi dengan pengikut Purusada. Pengikut Purusada dapat dikalahkan, lari ke Sutasoma dan berjanji akan melepaskan watak jahatnya. Dasabahu merangkul Sutasoma dan meminta agar ia mengawini adiknya. Mereka bersama naik kereta melewati kraton Awangga yang telah dikalahkan oleh Dasabahu. Akhirnya mereka sampai di kraton Dasabahu.
Ketiga anak Dasabahu dikenalkan dengan Sutasoma di suatu danau. Dikatakan bahwa danau itu dulu dibuat oleh raja Jina (Wairocana) bersama istrinya Locana waktu masih di surga. Sekarang mereka turun ke bumi menjelma pada Sutasoma dan istrinya. Setelah beberapa waktu tinggal di kraton Dasabahu, mohon ijin kepada raja ingin menjenguk orang tuanya di Hastina.
Purusada sudah melahap sembilan puluh sembilan raja. Sekarang perhatiannya ditujukan ke raja Jayawikrama. Terjadi pertempuran, raja Jayawikrama meninggal, istri ikut meninggal terjun di api unggun.
Raksasa Purusada berserta raja sekutunya yaitu raja Kalingga, Magadha dan Awangga ke Hastina. Sutasoma menawarkan diri sanggup menjadi korban agar raja lainnya dapat diselamatkan. Terjadi pertempuran.
Kala bergembira karena Sutasoma sanggup menyerahkan diri. Kala berubah menjadi seekor naga akan menelannya, tetapi tidak jadi justru menjadi murid Sutasoma. Di bawah Sutasoma Kala dan Purusada hidup sebagai seorang biksu dan diberi pelajaran tentang dharma dan berbagai bentuk yoga.
Setelah beberapa waktu Sutasoma dan istrinya pulang ke surga Jina. Purusada menerima pahala karena tapanya sebagai murid Jina. Kala mendapat pangkat Pasupati. Ardana (putra Sutasoma) menggantikan ayahnya sebagai raja di Hastina.
Lontar Koleksi Museum Sonobudoyo, dikerjakan bersama DR. Riboet Darmosoetopo
Selengkapnya...
Senin, 12 Juli 2010
Ditjen PSDKP BBentuk Tim Terpadu, Lacak Pencarian BMKT Ilegal

Ditjen Pengasawan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) telah membentuk tim terpadu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan indikasi pencarian BMKT illegal di perairan Laut Jawa Utara Blanakan Subang, Jawa Barat yang diduga melibatkan Michael Hatcher. Tim terpadu ini juga terus melakukan pendalaman informasi untuk mengumpulkan bukti-bukti materiil dugaan pencurian 2.360 buah artefak kuno berupa piring dari Dinasti Ming.
Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Dr. Ir. Aji Sularso mengemukakan, Tim terpadu telah melakukan pendalaman informasi dan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan. Termasuk di dalamnya, mendalami kasus pencarian BMKT yang diidikasikan illegal oleh oknum nelayan yang menggunakan dua buah kapal (KMN Alini Jaya dan KMN Asli Jaya) yang saat ini disimpan di Lanal Cirebon.
“Kasus tersebut akan ditangani PPNS Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Bareskrim Polri untuk penyidikan,” kata Aji Sularso, di Jakarta, belum lama ini.
Aji Sularso mengatakan, pembentukan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga asal Muatan Kapal Tenggelam (Panas BMKT) dilatarbelakangi terjadinya peristiwa pengangkatan muatan kapal Geldermalsen (milik VOC) di perairan Karang Heluputan, Kepulauan Riau pada tahun 1985-1986 yang dipimpin Michael Hatcher. BMKT yang berhasil diangkat berupa 126 batang emas lantakan dan 160.000 benda keramik dinasti Ming dan Qing.
BMKT ini kemudian dilelang di Balai Lelang Christie’s Amsterdam senilai US$ 17 juta. Nah, berdasarkan hal tersebut pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No,43 tahun 1989 tentang Pannas BMKT. Selain kegiatan pengangkatan BMKT yang dilakukan Michael Hatcher tanpa izin di perairan Karang Heluputan sekitar tahun 1985-1986, juga terjadi kembali kegiatan yang merugikan Indonesia di Selat Gelasa dekat Pulau Bangka yang dilakukan Tilman Walterfang yang dilelang di Nagel Auction Jerman senilai US$ 40 juta.
Nah, dengan adanya peristiwa pengangkatan BMKT illegal yang merugikan negara ini, tim terpadu terus melakukan pelacakan terhadap sejumlah laporan dari PT Comexindo Usaha Mandiri di perairan Laut Jawa Utara, Blanakan Subang, Jawa Barat yang diduga melibatkan Michael Hatcher.
Data PSDKP menyebutkan kurun 2001-2009 Ditjen PSDKP telah melakukan pengawasan survei di 32 lokasi dan pengawasan pengangkatan di delapan lokasi. Pada tahun 2010 pihaknya melaksamakan pengawasan survei PT Bangun Bahari Nusantara di perairan sebelah selatan Pulau Belitung dan pengawasan pengangkatan PT Comexinndo Usaha Mandiri di perairan Laut Jawa Utara Blanakan Subang, Jabar. (idt/pab)
Selengkapnya...
Kamis, 08 Juli 2010
Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Ronggowarsito
Seperti layaknya Hayam Wuruk, nama Ronggowarsito adalah tokoh klasik terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Berg sampai mengatakan bahwa dialah (Ronggowarsito) sang pujangga penutup. Karya yang dihasilkan sekitar 68 buah, meliputi berbagai bidang yaitu filsafat, babad, jangka, primbon, sejarah, silsilah, pendidikan, ilmu pengetahuan alam, pedalangan, dan perkamusan. Hasil karya Ronggowarsito yang berisi tentang pemerintahan dan kemimpinan diantara terdapat pada Pustakaraja Madya yang meliputi: serat Darmasarana, Serat Yudayana, Serat Gendrayana, Serat Budhayana, Serat Sariwahana, Serat Ajidama, Serat Mayangkara, Serat Purusangkara, Serat Anglingdarma, Serat Ajipamasa, dan Serat Witaradya.
Dalam serat Ajipamasa termuat ajaran Asthabrata yaitu di dalam pupuh XI Girisa bait 1-15. Intinya adalah seorang raja atau pemimpin harus mempunyai sifat seperti pratala ‘bumi/tanah’, tirta ‘air’, dahana ‘api’, maruta ‘angin’, surya ‘matahari’, candra ‘bulan’, sudama ‘bintang’. Eyang buyut Ronggowarsito, yaitu Yasadipura I, juga pernah menggubah cerita Ramayana bahasa Jawa Kuna ke dalam bahasa jawa Baru (?) dan diberi judul Serat Rama. Di dalam cerita tersebut terdapat pula ajaran Asthabrata sama seperti naskah induknya, namun terdapat perbedaan dalam penyebutan delapan brata. Jika dalam Ramayana kakawin Asthabrata disebutkan dengan nama dewa-dewa lokapala, maka Serat Rama menyebutnya dengan sebutan benda-benda di bumi, misalnya dewa agni diganti dengan sifat api. Karya lain Ronggowarsito yang berkaitan dengan kepemimpinan ialah Nitisruti.
Selain Asthabrata, di dalam serat Ajipamasa juga terkandung ajaran Nistha-Madya-Utama. Ajaran ini diberikan oleh Prabu Kusumawicitra kepada Prabu Gandakusuma dan Prabu Jayasusena. Selain itu, ajaran ini juga disampaikan oleh Ajar Sarabasata kepada putranya Sang Sasana. Inti ajarannya sebagai berikut :
1. Nistha ‘nista’
Disebut nistha ‘nista’ jika seandainya raja (pemimpin negara) mempunyai sifat melikan ‘ingin memiliki’ terhadap harta benda milik rakyat atau para penggawa. Hal ini yang harus dihindari raja meskipun raja bersedia membeli dengan harga tinggi. Seandainya rakyat atau pemiliknya kurang senang, hendaknya niat itu diurungkan sebab dapat menumbuhkan sikap tidak percaya rakyat kepada pemimpinnya. Namun bila raja benar-benar menginginkannya, maka ia dapat menanyakan kepada pemiliknya dengan kata-kata yang lemah lembut.
2. Madya ‘tengahan/sedang’
Disebut madya seandainya raja memiliki sifat pemurah. Apabila ada rakyatnya yang kekurangan dan dating kepada raja, raja berkewajiban memberikan dana secukupnya sesuai kebutuhan rakyat tersebut. Namun raja juga boleh menolak. Apabila ada seorang yang menghadap dan mempersembahkan barang berharga kepada raja, maka raja berkewajiban memberikan imbalan barang berharga lainnya yang pantas sebagai pengganti. Selain itu raja hendaknya memiliki sifat gemar memberikan ganjaran kepada rakyat atau penggawa yang berhasil menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Tetapi raja juga berkewajiban menghukum kepada siapa saja yang bersalah.
3. Utama ‘utama’
Perbuatan utama maksudnya seandainya raja memiliki sifat berbudi bawa leksana. Berbudi berarti memiliki perasaan tulus ikhlas dalam hati dan pikiran, gemar memberikan dana atau ganjaran setiap hari. Bawa leksana berarti menetapi dan menepati janji yang pernah ia ucapkan. Seandainya raja memiliki sifat berbudi bawa leksanaa itu, niscaya hati dan pikiran akan suci, bersih, sentosa, teguh, tegar dalam pendirian, mampu mengatur, mengendalikan, dan menguasai negara yang ia perintah. (Tedjowirawan, 2001: 197-188).
Ada empat hal yang hendaknya dilakukan oleh raja dalam mengatur tata pemerintahan, yakni :
1. Anata ‘mengatur’, maksudnya raja harus mampu mengatur tata pemerintahan dengan baik.
2. Aniti ‘meneliti’, maksudnya raja hendaknya meneliti para pegawainya secara rahasia atau dalam hati saja.
3. Apariksa ‘memeriksa’, maksudnya memeriksa isi negara.
4. Amisesa ‘mengadili’, maksudnya raja hendaknya memberantas segala kejahatan di kerajaannya.
Serat Ajipamasa menyebutkan hal-hal yang menyebabkan calon abdi negara berbuat nista ada tujuh, yakni : plin-plan, harta benda orang lain, dengan jalan mengadukan (kejelekan orang lain), mementingkan diri pribadi, di dalam batin (pikirannya) merasa mendapat kepercayaan raja, tidak menepati, dan iri dengki. Penyebab perbuatan madya yaitu : rajin, mengindahkan dan menurut, dapat memahami/tanggap, melaksanakan, menerima nasib, takut larangan, dan dapat menyesuaikan situasi dan kondisi. Demikian pula seorang abdi negara yang utama pun bermula dari tujuh sikap, yaitu: kesungguhan, hemat, teliti, berhati-hati, mengetahui, kesentosaan hati, dan mantap.
Selengkapnya...
Rabu, 07 Juli 2010
Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Hayam Wuruk
Tokoh Hayam Wuruk mungkin dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin/raja dengan “paket super lengkap”, sepanjang sejarah perjalanan bangsa (masa kerajaan Hindu-Budha). Sepak terjang Hayam Wuruk dapat diketahui karena terdokumentasikan oleh “wartawan” kerajaan yang bernama Prapanca, yang dipaparkannya secara mendetail. Nampaknya puncak kebesaran kerajaan di Indonesia diperoleh oleh Majapahit dengan hayam Wuruk sebagai rajanya dan Gadjah Mada sebagai mahapatihnya.
Seluruh wilayah nusantara dapat dipersatukan ditambah negara-negara tetangga menjadi bawahan. Melalui kitab nagarakretagama dan prasasti dapat diperoleh informasi mengenai tata pemerintahan, social budaya, perekonomian, dan sebagainya. Tata kelola pemerintahan Majapahit merupakan yang terlengkap diantara kerajaan-kerajaan lainnya sepanjang mengacu pada data-data yang ada sekarang.
Hayam Wuruk merupakan sosok raja yang senantiasa memperhatikan rakyatnya. Nagarakretagama menceritakan perjalanan raja ke daerah-daerah dalam rangka peninjauan. Dalam konsep Asthabrata, raja yang baik adalah raja yang dapat mengerti keadaan dan kemauan rakyatnya. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk ‘turun ke bawah’ langsung. Nagarakretagama menceritakan bahwa ketika raja sampai di suatu daerah maka ia akan menginap beberapa hari untuk beristirahat sambil beraudiensi dengan masyarakat secara langsung. Ciri lain yang menonjol pada diri Hayam Wuruk ialah sikapnya yang tidak otoriter, hal tersebut dapat dilihat dari dibentuk Dewan Pertimbangan Agung. DPA bersidang setiap kali raja akan akan mengambil keputusan mengenai perkara penting yang menghendaki kebulatan pendapat dari kerabat. Suryabrata dalam konsep Asthabrata mengajarkan kepada raja agar memikirkan secara matang tindakan yang akan diperbuat. Hal tersebut diwujudkan oleh Hayam Wuruk dengan mengadakan musyawarah setiap kali akan memutuskan sesuatu, seperti misalnya ketika akan mencari pengganti Gadjah Mada. Dalam musyawarah tidak dicapai kata sepakat karena peserta musyawarah berpendapat bahwa tidak ada yang sanggup menggantikan Patih Gadjah mada, sehingga diputuskan tidak ada yang menggantikan posisi Gadjah Mada sebagai mahapatih.
Jika kepemimpinan Hayam Wuruk dikaitkan dengan Asthabrata, maka pemerintahannya adalah sebagai jawaban atas hipotesis kaitan antara Asthabrata dengan hasil pemerintahan yang dicapai. Para ahli sepakat dengan tesis bahwa Majapahit ialah kerajaan terbesar di Nusantara dengan Hayam Wuruk dan Gadjah Mada sebagai tokoh sentralnya. Karena apa? Karena semua ucapan dan tindakan Hayam Wuruk senantiasa mengacu pada Asthabrata.
Selengkapnya...
Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantoro merupakan tokoh perjuangan, sehingga tidak dapat disangsikan lagi jiwa kepemimpinannya. Selain sebagai tokoh pendidikan, beliau juga merupakan jurnalis, politikus, patriot, dan juga negarawan. Keinginannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa direalisasikan dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1923. Gagasannya yang terkenal ialah semboyan Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Sesungguhnya semboyan tersebut bukan hanya untuk diterapkan pada pendidikan, namun lebih luas lagi dapat diaplikasikan pada figure pemimpin, baik pemimpin pusat maupun daerah.
Selengkapnya...
Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Tanakung
Jika melihat ringkasan cerita Lubdhaka sebagaimana yang disusun oleh Riboet Darmosoetopo, maka Tokoh Tanakung dapat dikatakan belum terlihat gagasan-gagasannya mengenai kepemimpinan maupun pemerintahan. Inti dari cerita Lubdhaka tersebut lebih cenderung pada masalah social kemasyarakatan dimana Lubdhaka diposisikan sebagai pemburu. Dalam kitab Karmawibhangga, seorang pemburu akan mendapatkan karma berupa penyiksaan di neraka.
Selengkapnya...
Tokoh-Tokoh Besar Indonesia (Mpu Tantular)
Tokoh Mpu Tantular seringkali dikaitkan dengan sebuah karya sastra yang sangat terkenal yakni Sutasoma yang tidak lain adalah hasil karyanya sendiri. Gagasan-gagasan seorang Tantular dapat dilihat dari isi kitab yang dihasilkannya yaitu Sutasoma. Sutasoma menceritakan kehidupan sorang raja yang bernama Sutasoma, mulai dari sebelum dilahirkan sampai ketika dirinya pulang ke surga Jina.
Menurutnya, seorang raja yang baik dan berwibawa ialah raja yang mampu atau rela berkorban demi orang lain. Hal ini dapat dilihat ketika Sutasoma rela mejadi korban raksasa Kala dengan persyaratan 100 orang raja yang dipersembahkan oleh Purusada dibebaskan dari lahapannya, sampai akhirnya Kala tidak berhasil membunuhnya dan akhirnya menjadi kerabatnya. Gagasan Sutasoma yang lain adalah bahwa menghadapi musuh tidak harus dengan angkat senjata, melainkan dengan cara yang lebih santun yaitu diplomasi dengan keluhuran budi dan kekuatan batinnya. Semua yang dikalahkan tidak dianggap sebagai bawahannya, tetapi dianggap sebagai kerabat. Satu yang terpenting dari gagasan Sutasoma ialah bhinneka tuńgal ika, tan hana dharmma mańrwa, artinya : keanekaan itu hakekatnya satu (hanya Esa), sebab tidak ada yang hakiki (kebenaran) itu lebih dari satu. Ini adalah petuah dari Sutasoma mengenai keresahannya terhadap pertentangan agama yang sering terjadi. Tantular menempatkan Sutasoma sebagai raja sangat toleran terhadap warganya, yaitu menyangkut kerukunan antar umat beragama karena pada masa tersebut berkembang beberapa agama.
Selengkapnya...
Indahnya Warisan Budaya Masa Lalu
“Saya bangga jadi anak Indonesia karena banyak sejarah
yang dapat diambil pelajaran”.
Itulah sedikit celotehan yang dituangkan oleh seorang pelajar SD di atas selembar kain kesan dan pesan ketika menyaksikan pameran purbakala yang diadakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang di Kota Cirebon beberapa waktu lalu. Sepintas, satu baris kalimat tersebut tampak sangat sederhana, namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat makna yang luar biasa. Tentu kita harus menakarnya dari posisi berapa usia anak tersebut. Jika yang melontarkan kalimat tersebut adalah anak seusia SMA, sudah pasti itu ialah hal yang biasa.
Indonesia adalah sebuah negeri kepulauan yang seolah tidak pernah bosan merasakan manis pahit perkembangan peradaban. Dimulai dari peradaban yang paling primitif yaitu ketika manusia masih menggantungkan hidupnya pada batu-batuan, kemudian ketika masyarakat disuapi doktrin-doktrin agama Hindu dan Budha hingga tercipta megahnya Candi Borobudur. Perjalanan tidak berhenti sampai di situ saja. Pengaruh agama Islam pun seolah tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam percaturan kebudayaan di Indonesia. Adalah makam Fatimah Binti Maimun di Leran Gresik, yang sampai saat ini masih dipercaya sebagai bukti tertua masuknya masyarakat muslim di Pulau Jawa. Ketika penjajah Kolonial Belanda menapakkan kakinya di Indonesia, imbasnya terasa sangat luas. Semua lini kehidupan terpengaruh oleh budaya barat yaitu secara fisik dan mental yang termanifestasikan dalam beragam bentuk.
Pada era sekarang ini, masyarakat Indonesia diuji ketahanannya dari dahsyatnya serbuan budaya asing yang mendera setiap sektor kehidupan. Jika ditarik ke belakang ternyata hal tersebut pun telah terjadi pada masa lampau seperti yang telah diuraikan di atas. Ketika manusia prasejarah dihadapkan pada sebuah kebudayaan asing, yaitu India, mereka dengan sangat mudah dapat menerimanya. Dalam hal keyakinan, hampir terdapat persamaan pada kedua kepercayaan tersebut, yang paling utama adalah objek dari sesuatu yang mereka puja. Masyarakat prasejarah, sebelum mengenal agama Hindu, mendasarkan kepercayannya kepada hal-hal gaib dalam hal ini nenek moyang mereka. Mereka percaya akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama pengaruh kuat dari nenek moyang yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman, sehingga dalam setiap prosesi ritualnya selalu berkaitan dengan hal tersebut.
Ajaran yang dibawa oleh orang-orang India ketika masuk di nusantara tidaklah jauh berbeda dari kepercayaan kaum prasejarah. Jika masyarakat prasejarah percaya kepada hal-hal gaib seperti roh nenek moyang, maka dalam agama Hindu pemujaan ditujukan kepada para dewa trimurti ,yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu yang diwujudkan dalam bentuk arca. Dari kemiripan ini, tidak mengherankan jika masyarakat prasejarah begitu mudah menerima sistem yang baru dalam kehidupan mereka. Namun, sangatlah gegabah kiranya jikalau kita terlalu cepat menarik kesimpulan betapa mudahnya orang-orang India menanamkan pahamnya kepada mereka. Tentu saja banyak sekali kesulitan yang dihadapi terutama sekali dalam hal bahasa penyampaian.
Kreatifitas
Sebagai sebuah bangsa yang kaya akan nilai-nilai tradisional, akan sangat ironis tatkala nilai-nilai tersebut hilang begitu saja diterkam budaya-budaya luar yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Begitu banyaknya warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, baik absrak ataupun konkret, yang dapat membangkitkan semangat persatuan bangsa ditengah-tengah kemajemukan budaya bangsa. Sebuah pertunjukan spektakuler yang ditampilkan pada saat puncak peringatan 100 tahun Indonesia Bangkit, dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk menunjukkan bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara lain yaitu didukung oleh ribuan hasil budaya bangsa.
Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia pada masa lampau ialah orang-orang yang kreatif terutama dalam mengelola arus globalisasi masa lalu. Serangan budaya asing yang mendera mereka begitu kuat, sehingga diperlukan sebuah saringan yang mampu mengontrol kebudayaan baru itu. Saringan itu adalah kreatifitas. Dengan adanya kreatifitas, manusia dapat mempertahankan hidup contohnya dalam beradaptasi dengan lingkungan baik fisik maupun budaya. Bangsa Indonesia harus bangga memiliki nenek moyang yang kreatif yaitu kreatif dalam segala hal khususnya dalam memadukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda sehingga terciptalah sebuah bentuk budaya yang baru yang dapat diterima masyarakat luas.
Salah satu contoh budaya materi hasil karya nenek moyang adalah bangunan punden berundak sebagai representasi upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang. Bangunan ini banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, contohnya adalah Lebak Sibedug yang ada di Kabupaten Lebak, Pugungraharjo Lampung, dan sebagainya. Para ahli menyepakati bahwa bangunan ini adalah sebagai cikal bakal dari bangunan candi, ambil saja contoh Candi Borobudur. Hal inilah yang memberikan nilai lebih kepada candi-candi yang ada di Indonesia karena ternyata sangat berbeda dengan pakem aslinya yang ada di India. Di Indonesia, candi yang memiliki arsitektur hampir sama dengan gaya di India hanya terdapat di kompleks percandian Dieng Wonosobo, sedangkan lainnya adalah hasil kreatifitas masyarakat Indonesia.
Local wisdoms
Sebaris kalimat pembuka di atas bagi saya adalah hal yang patut ditanamkan pada benak anak-anak Indonesia yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Ketika nilai-nilai luhur budaya bangsa mulai terkikis dan bahkan suatu saat akan hilang, maka bangsa ini telah kehilangan identitas aslinya. Walaupun pada kenyataannya kita tidak boleh menafikan bahwa sebuah kebudayaan pasti akan mengalami perubahan seperti halnya yang terjadi pada masa lalu. Namun, yang paling penting adalah apa yang dapat kita ambil pelajaran dari masa lalu untuk menapak masa depan yang lebih baik. Satu hal yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia ialah bahwa nenek moyang telah mewariskan kepada kita ratusan bahkan ribuan kearifan local masyarakat masa lalu, baik dalam bidang hukum, budaya, sosial, ekonomi, religi, dan lainnya.
Ketika beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia dihebohkan oleh pertikaian yang berbau SARA di beberapa daerah yang harus mengorbankan banyak nyawa, seharusnya kita malu jika dipaksa untuk membuka kembali buku catatan masa kebudayaan Hindu-Budha-Islam di Jawa Timur. Pada masa itu, agama yang berkembang di masyarakat ialah Hindu dan Budha sebagai agama mayor dan Islam sebagai agama minor. Keberadaan masyarakat muslim sudah mulai tampak pada masa ini. Jika kita mengunjungi salah satu situs makam di Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur, kita serasa menggunakan mesin waktu kembali ke abad XV, dimana kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah nusantara. Kita dapat membayangkan betapa indahnya hidup pada masa itu, hidup di dalam sebuah masyarakat yang menunjung tinggi toleransi beragama.
Di area situs tersebut terdapat dua buah kompleks makam yang bernama Makam Syekh Jumadil Qubro dan Makam Tujuh. Makam yang pertama keadaannya sudah kacau balau karena pemanfaatan yang sangat bertentangan dengan pelestarian. Semuanya sudah berhiaskan keramik putih. Sedangkan makam yang kedua keadaanya masih asli karena belum terjamah orang yang tidak bertanggung jawab (mudah-mudahan jangan sampai). Hal yang menarik dari keberadaan Makam Tujuh ini adalah adanya inskripsi / tulisan pada kedua sisi nisan. Pada nisan sisi dalam, terdapat ukiran berbentuk logo kerajaan milik Hayam Wuruk yaitu Surya Majapahit. Di tengah-tengah logo tersebut terdapat angka tahun dalam aksara Jawa Kuna. Sedangkan di sisi luar, terdapat kaligrafi Islam yang berbunyi lailahailallah (maksud tulisan semula) namun terdapat kekurangan satu huruf sehingga tidak berbunyi sebagaimana mestinya.
Data di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa pada masa itu toleransi beragama memang dipegang sangat kuat. Agama Islam sebagai agama minor pada masa itu diberikan tempat tersendiri di dalam masyarakat sehingga mereka dapat hidup secara rukun. Contoh yang sampai saat ini masih berlangsung dapat kita jumpai di Pulau Sakenan, Bali, dimana komunitas masyarakatnya terdiri dari dua agama yakni Hindu dan Islam. Yang menarik adalah bahwa ketika salah satu kelompok agama tersebut mempunyai hajatan misalnya bersih pura, maka orang-orang yang beragama Islam akan dengan senang hati membantunya, begitu pula sebaliknya.
Dari uraian tersebut di atas kita dapat memikirkan kembali kondisi bangsa Indonesia yang notabene kaya akan kemajemukan budaya namun pada sisi yang lain sangat rawan terhadap konflik. Jika kita baca lagi sebaris kalimat pembuka di atas, maka apa yang disampaikan oleh pelajar SD itu patut kita renungkan kembali. Pesan utama yang ingin disampaikan oleh anak tersebut ialah bahwa nenek moyang kita telah mewariskan betapa indahnya nilai-nilai local wisdoms masa lalu. Apa yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu bangsa beberapa abad silam sangatlah masih rasional untuk kita ambil pelajaran pada masa kini karena pada dasarnya peristiwa-peristiwa masa lalu pasti akan terjadi lagi pada masa kini, sehingga kita dapat mengambil pelajaran untuk menapak masa depan yang lebih baik.
(pernah dimuat di harian Fajar Banten)
Selengkapnya...
Senin, 05 Juli 2010
Mengejar Sampai Stuttgart

Stuttgart, Oktober 2000. Nunus Supardi, mantan Direktur Purbakala, masih ingat bagaimana warga kota itu begitu antusias menyambut pelelangan harta karun dari Indonesia. Ribuan porselen antik dari kapal Cina Dinasti Qing (Mancuria) bernama Tek Sing yang karam pada 1822 di Selat Gelasa, antara Bangka dan Belitung, dilego kepada masyarakat luas.
Berbulan-bulan sebelum acara, masyarakat Stuttgart sudah diajak berimajinasi. Sebuah replika besar kapal Tek Sing dibuat dan dipasang di tengah keramaian Stasiun Stuttgart. Der Spiegel, majalah Jerman ternama, "memanaskan" suasana dengan menyebut Tek Sing "Titanic abad ke-19".
"Kami datang dari Jakarta. Bersama saya, ada Dr Syafri Burhanudin dari Departemen Kelautan; Pak Beny Mamoto dari kepolisian; dan Ibu Widiati, ahli keramik Kementerian Kebudayaan."
Mereka adalah tim pemburu yang dikirim negara. Awalnya, menurut Nunus, adalah surat dari KBRI Australia ke Departemen Luar Negeri yang diteruskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan. Surat itu berisi laporan Australian Federal Police, yang menyatakan ada 43 kontainer berisi porselen antik Cina dari perairan Belitung yang masuk ke Pelabuhan Adelaide, tanpa surat izin pemerintah Indonesia.
Pemerintah bergerak cepat. Insting pemerintah waktu itu: Michael Hatcher-"perompak harta karun"-beraksi lagi. Pada 1985-1986, Hatcher menjarah isi perut kapal Geldermalsen milik VOC yang tenggelam di Karang Heluputan, Tanjung Pinang, pada 1750. Ia mendapatkan 126 batangan emas lantakan serta 160 ribu keramik Dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1644-1911). Pada 1986, barang itu dilepas di Balai Lelang Christie, Amsterdam, dan jumlah yang didapat sampai 17 juta euro. Pemerintah Indonesia sama sekali tidak kebagian jatah.
Pemerintah tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Wakil pemerintah segera terbang ke Adelaide, sayang di sana 37 kontainer telah dikirim ke Jerman. Pemerintah mendapat kabar bahwa di Stuttgart, keramik-keramik itu bakal dilelang oleh Balai Lelang Nagel. Pemerintah mengabari Balai Lelang Nagel bahwa barang-barang itu ilegal.
Mendengar lelang bisa gagal, pihak Hatcher berusaha melobi pemerintah Indonesia. Hatcher mengirim ahli hukumnya, Peter Church, ke Jakarta. "Kami berdebat sengit dengan Peter Church," kata Nunus. Meskipun demikian, lelang tak bisa digagalkan karena pemerintah Stuttgart telah telanjur berpromosi besar-besaran. Akhirnya disepakati bahwa Indonesia harus diberi jatah. Disepakati pembagian uang 50-50 persen dari barang yang laku dilelang. Dan 1.500 porselen terbagus bisa dibawa pulang.
"Persoalannya, porselen dan keramik sudah masuk katalog dan sudah terbuka untuk dibeli publik," kata Nunus. Sebagai konsekuensinya, tim Indonesia tidak bisa begitu saja mengambil porselen yang diminati, tapi harus ikut menjadi peserta lelang.
Nunus ingat bagaimana ia dan anggota tim lainnya terpaksa menjadi bidder. Lelang itu diadakan di Jalan Rosensteinstr. Waktu itu musim dingin. Di sebuah tanah lapang didirikan tenda superbesar. Setiap keramik secara visual dipresentasikan dengan menarik di dua layar raksasa. Porselen itu dilelang per satuan atau per jenis, bukan gelondongan. Para pembeli tidak diharuskan menaruh uang jaminan. Menurut Nunus, masyarakat Stuttgart begitu antusias bersaing memilih barang yang ditawarkan, mulai cepuk, mangkuk, tungku, teko, pasu, vas, tempat lilin, sendok, cangkir, tempayan, tempat jahe yang rata-rata berglasir biru-putih dengan berbagai motif bunga: magnolia, lotus, dan daun bambu, sampai patung kilin singa dari granit.
"Lelang berlangsung dua minggu dari pukul 9 pagi sampai pukul 2 pagi. Peminat bisa mem-bid melalui Internet dan telepon," kata Nunus. Katalog lelang tebal sekali: 1.020 halaman. Di situ sekitar 16.100 barang diberi deskripsi dalam bahasa Jerman dan Inggris.
l l l
Yang juga membuat masyarakat Stuttgart bergairah menghadiri lelang adalah adanya informasi sejarah yang lengkap tentang asal-usul karamnya Tek Sing. Untuk keperluan lelang, Michael Hatcher dan sejarawan Nigel Pickford, misalnya, menerbitkan buku khusus tentang Tek Sing.
Pada 14 Januari 1822-diungkapkan Hatcher-kapal Tek Sing berangkat dari Pelabuhan Kota Amoy, Cina (kini bernama Hsmien), ke Batavia. Kapal itu penuh porselen. Sasaran pembeli mereka adalah bangsawan Jawa atau pedagang Inggris, Swedia, dan Prancis di Batavia. Kapal itu juga memuat 1.600 penumpang asal Fujian yang ingin bekerja di perkebunan gula di Jawa. Masyarakat Fujian dikenal miskin dan tidak sepenuhnya loyal kepada Dinasti Mancuria yang berkuasa sejak 1644. Mereka lebih condong kepada dinasti sebelumnya, Dinasti Ming. Tujuan mereka ke Jawa juga karena di Jawa banyak komunitas Cina yang memegang teguh tradisi Ming dan akan membantu mereka.
Hatcher menulis bukunya berdasarkan catatan saksi mata kapten Inggris bernama James Pearl yang menyelamatkan awak Tek Sing. James Pearl adalah pedagang opium. Dari Kolkata, India, pada 1822, ia memimpin kapal bernama Indiana membawa opium yang hendak dijual ke Batavia. Ia berhenti di Teluk Bayur, Padang. Melewati Padang, ia melihat burung albatross beterbangan. Memasuki Selat Sunda, ia sempat menikam hiu-hiu. Memasuki perairan Selat Gaspar (dekat Pulau Gelasa) antara Bangka dan Belitung, ia terkejut karena ia menyaksikan pecahan-pecahan peti, bambu, payung mengambang, dan orang-orang Cina telanjang di sana-sini dalam kondisi mengenaskan mengapung di laut.
Sekitar 95 orang bisa diselamatkan Kapten James Pearl. Salah satunya bernama Baba Chy. Ia adalah anak seorang pedagang Cina kaya di Batavia. Dari keterangannya itulah bisa diperoleh informasi ribuan pelarian dari Fujian di kapal itu membawa istri dan anak-anak yang masih kecil, dan juga harta benda.
Nunus ingat bagaimana tim Indonesia sadar bahwa mereka akan bersaing keras dengan warga Stuttgart yang tertarik membeli karena unsur tragedi itu. Yang kebagian menentukan adalah arkeolog Widiati. Ia ditugasi menyeleksi barang mana yang paling bagus dari tiap jenis yang dilelang. Widiati ingat tiap malam ia tidak bisa tidur. "Saya belajar terus untuk besok," dia mengenang. Benar, saat lelang, tim Indonesia berjuang keras agar barang-barang porselen terbaik tidak jatuh ke tangan pembeli lain. "Kami terus mengacung, untuk mendapatkan barang yang dipilih sampai enggak ada yang nawar," kata Nunus.
Menurut Widiati, sesungguhnya piring, teko, tempat pembakaran dupa, dan keramik di lelang Stuttgart itu banyak beredar di pasar umum. Namun, karena di baliknya ada kisah yang dramatis, harganya menjadi istimewa. Beberapa guci, vas, dan gentong yang dilelang malah dibiarkan tetap tertempeli binatang mati dan koral-koral. Juga beberapa piring yang rekat karena karang atau piring beserta isinya yang sudah membatu ada yang tetap tidak dibersihkan. "Ini justru unik, menandakan cara memperolehnya dari dasar laut, bukan dari warisan," ujar Widiati, yang sekarang Kepala Subdirektorat Pengendalian Pemanfaatan Peninggalan Bawah Air Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.
Apakah semua porselen yang terbaik bisa dibawa balik ke Indonesia? Mungkin juga tidak. Sebab, kata Pascal Kainic-seorang Prancis, konsultan pengangkatan harta karun kapal karam yang malang-melintang puluhan tahun di perairan Indonesia-lelang Stuttgart sesungguhnya sudah bocor terlebih dulu. "Saya hadir di lelang Stuttgart itu dan bertemu dengan kolega Michael Hatcher." Pascal bercerita, ia mendapatkan informasi bahwa yang dilelang sesungguhnya adalah barang sisa-sisa. "Yang baik-baik telah dijual Hatcher sendiri ke kolektor. Bahkan saya dengar Hatcher sengaja memecah beberapa keramik yang sebenarnya untuk dilelang agar harga keramik yang dijualnya sendiri itu makin tinggi."
Benar atau tidak informasi Pascal, lelang di Stuttgart itu membuktikan bahwa barang kapal karam di perairan Indonesia memukau publik Eropa. Uang pembagian lelang Stuttgart sendiri, menurut Widiati, sekitar 2 juta mark Jerman. "Itu para atasan yang tahu," katanya. Menurut Nunus, tugas tim Stuttgart hanya membawa pulang porselen pilihan. "Setelah kami pulang, mereka mentransfer uang itu ke Departemen Kelautan."
majalah tempo
Selengkapnya...
Dari Gudang Menanti Lelang

Pintu baja berukuran 1 x 2 meter itu ketebalannya 20 sentimeter. Mirip pintu brankas besar. Membukanya sangat sulit. Terlihat ada dua tombol besar. Tombol itu memiliki kombinasi angka. Mula-mula harus digunakan dua kunci agar bisa memutar dua tombol tersebut. Bila kode tombol yang diputar cocok, diperlukan satu kunci lagi dengan panjang 15 sentimeter. Barulah pintu brankas bisa dibuka. Tapi itu pun Anda belum langsung bisa masuk, masih ada pintu berjeruji besi.
Itulah pintu gudang penyimpanan porselen yang dibangun Budi Prakoso, pemilik PT Tuban Oceanic Research & Recovery di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat. "Pintu baja itu beratnya 800 kilogram," kata Benny, orang kepercayaan Budi yang memegang kunci gudang.
Begitu pintu terbentang dan lampu diterangkan, kita melihat sebuah ruang besar sekitar 800 meter dengan rak-rak. Udara sejuk terasa disetel dengan temperatur khusus. Di situlah sejak sembilan tahun lalu disimpan sekitar 31 ribu keramik Dinasti Yuan hasil pengangkatan Budi dari Karang Cina, perairan sekitar Selat Karimata.
Kita melihat di 80 rak susun besi dengan tinggi 3 meter dipajang rapi guci kecil sampai besar, buli-buli, mangkuk, piring, tempat bedak, celadon, cepuk tempat saus, perhiasan, atau bedak. Di antara rak ada lorong-lorong panjang. "Saya mengangkatnya selama enam bulan dengan 12 penyelam," kata Budi. Di gudang ini juga dititipkan 14 ribuan keramik dari perairan Blanakan yang diangkat PT Lautan Mas Bakti Persada pada 1999.
Tak sembarang orang diperbolehkan melihat koleksi harta karun itu. Gudang terletak di bagian belakang kawasan rumah seluas 6 hektare milik Budi. Tembok kawat berduri mengelilinginya, dengan kamar penjaga. Terasa gudang itu memenuhi standar konservasi internasional, jauh lebih representatif daripada gudang kandang kuda Pamulang, Banten, tempat menyimpan harta dari Cirebon. Gudang di Pamulang terkesan darurat.
Budi melengkapi gudangnya dengan laboratorium. Di laboratorium ini terdapat dua bak porselen putih berukuran 7 x 15 dan 8 x 15 meter untuk proses desalinasi. Juga terdapat meja menggambar dan memotret keramik yang sudah dibersihkan.
Budi mengaku mengeluarkan sekitar Rp 2 miliar untuk membangun gudang tersebut. "Saya terobsesi memiliki gudang karena barang saya pernah tidak jelas," katanya. Pada 1994 ia mengangkat keramik di perairan Tuban, Jawa Timur. Namun, karena lelang tak kunjung disahkan pemerintah, ia menyerahkan ke Panitia Nasional. Ia tak tahu bagaimana kondisi keramik temuannya. "Saya tak tahu apakah oleh pemerintah dirawat atau tidak," katanya.
Direktur Peninggalan Bawah Air Surya Helmi mengatakan, Panitia Nasional sebenarnya memiliki gudang besar di Cileungsi, Bogor. Bahkan, Surya menyatakan gudang itu sanggup menyimpan kapal karam. "Tapi aturan penggunaannya belum jelas, sehingga perusahaan tak mau menyimpan di sana," ujarnya.
Mendengar pada 2009 pemerintah mengesahkan lelang, harapan Budi untuk menjual barang temuannya timbul lagi. "Saya sudah menunggu sejak tujuh tahun lalu. Saya sangat dirugikan," kata Budi.
Nasib menunggu lelang juga dialami sejumlah perusahaan pengangkut harta karun. Harta Pulau Buaya, Kepulauan Riau, yang diangkut Tommy Soeharto melalui PT Muara Wisesa Samudera, misalnya, lama tersimpan di Sentul, Bogor. Begitu juga dengan harta laut di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau, serta dari perairan Laut Jawa di utara Jepara yang diangkat PT Adikencana Salvage, kini disimpan di Kota Bintan dan Jepara. Direktur Utama Adikencana Omar Fazni mengaku sudah dua tahun lebih menunggu kejelasan lelang dari pemerintah. "Sekarang sudah mendesak sekali dilelang. Sangat jarang pengusaha bisa menunggu selama itu," katanya.
Pemburu harta asal Jerman, Fred Dooberphul, juga masih menyimpan koin-koin Spanyol dari perairan Belitung dan keramik Five Dynasties yang diangkatnya dari Karawang, di kantornya di Jalan Lodan, Jakarta. "Kalau yang Cirebon sudah dilelang, yang lainnya harus ikut dilelang segera," ujarnya.
Nyatanya, pemerintah menghentikan lelang harta karun Cirebon. Lelang-lelang lain dikhawatirkan tak terjadi. Ini membuat para pengusaha itu berkerut kening. "Pemerintah bisa disomasi. Kegagalan pemerintah karena lelangnya tak profesional. Pemerintah seharusnya menggandeng Sotheby 's atau Christie's," kata Budi Prakoso.
majalah tempo, Pramono, Seno Joko Suyono
Selengkapnya...
Balada Lelang Lima Menit

Karena tak ada penawar, lelang saya nyatakan ditutup." Tok, tok, tok! Palu diketuk keras oleh pejabat lelang Iraningsih.
Itulah antiklimaks suasana lelang harta karun abad ke-10 dari perairan Laut Jawa di wilayah Cirebon. Lelang di ballroom Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 5 Mei lalu itu hanya berlangsung lima menit.
Lelang itu sama sekali tak dihadiri kolektor keramik. Kursi calon pembeli kosong. Kebanyakan hanya wartawan yang datang. "You see," kata Luc Heymans seraya tersenyum kecut. Pria asal Belgia ini adalah Direktur Cosmix Underwater Research Ltd., perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk mengangkat barang-barang kapal karam Cirebon itu.
Adi Agung, Direktur Utama PT Paradigma Putra Sejahtera, yang menjadi mitra Cosmix, masih berusaha menghibur diri. "Meski gagal, saya bangga karena telah menempuh cara yang legal. Saya masih optimistis lelang kedua, dan ketiga, ada pembeli. Dan harganya tak turun."
Tapi harapan Adi itu mungkin tinggal harapan. Minggu ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan kebudayaan, UNESCO, menyatakan pemerintah akhirnya membatalkan penjualan artefak itu. Kemungkinan besar tak ada lagi lelang jilid kedua, apalagi ketiga. "Profit tidak lagi menjadi tujuan utama kita," kata Fadel, yang sebelumnya menggebu-gebu soal lelang.
l l l
Perubahan sikap Fadel itu membingungkan Adi Agung. "Lelang ini saya tunggu lebih dari enam tahun," kata lelaki yang selalu berpenampilan klimis itu. Lelang harta Cirebon, menurut dia, adalah peristiwa bersejarah. Pemerintah berani membuat keputusan penting untuk menertibkan penjarahan benda-benda kapal karam di perairan Indonesia yang marak.
Selama ini, menurut Adi, pengangkatan harta karun adalah bisnis yang kejam. "Tidak ada peraturan tegas. Wilayahnya abu-abu," kata lelaki yang sehari-hari berbisnis penyewaan kapal itu. Banyak pemain melakukan pengangkatan tanpa izin atau dengan izin palsu. "Semua memiliki beking masing-masing." Akibatnya, pemerintah sering kecolongan. Penyelam kawakan Michael Hatcher, misalnya, mampu menggondol emas lantakan bangkai kapal Geldermalsen di perairan Heluputan, Tanjung Pinang, Riau. Juga pemburu lain seperti Tilman Walterfang, yang membawa harta dari kapal karam Dinasti Tang di perairan batu Hitam, Belitung Timur.
Kita ingat, "hitamnya dunia kapal karam" itu juga pernah memakan korban arkeolog muda Indonesia, Santoso Pribadi. Pada Agustus 1986, Santoso yang akrab dipanggil Ucok itu menjadi bagian tim peneliti penyelam yang dibentuk negara untuk menyurvei perairan Heluputan, Riau. Tim ini dibentuk setelah kasus Hatcher mencuat. Lulusan Arkeologi Universitas Indonesia ini menyelam. Ia menemukan keramik, lalu menyelam lagi, tapi tak muncul-muncul. Ada spekulasi ia dibunuh.
"Maka lelang itu perlu, karena lelang tempat menjual artefak yang diangkat dengan jalur resmi. Di luar lelang berarti melanggar hukum," kata Adi Agung.
Adi menjelaskan, titik Cirebon diperolehnya dari nelayan pada 2003. "Titik itu sesungguhnya sudah diketahui nelayan sejak 2001. Saya tidak mengingkari ada kemungkinan nelayan awalnya sudah mengambil secara ilegal," katanya. Dia memperoleh izin pengangkatan dari Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam pada 2003. Sekitar 30 penyelam asing dan lokal dilibatkannya dari akhir April 2004 hingga awal Oktober 2005.
Proses sempat tersendat karena Adi dilaporkan mempekerjakan tenaga asing. "Itu komplain kompetitor," katanya. Adi kemudian bisa membuktikan tak menabrak aturan hukum. Adi menjamin pengangkatan yang ia lakukan berlangsung ilmiah dan sesuai dengan prosedur. "Di kapal, semua temuan diberi label (tanggal diangkat dan grid lokasi). Kemudian, saat harta karun dibawa dari Cirebon ke Jakarta, dikawal anggota TNI Angkatan Laut dan pengawas dari pemerintah."
Harta itu disimpannya di area pacuan kuda Pamulang, Tangerang, milik Letnan Jenderal Suharjono. Sebanyak enam bangunan kandang kuda yang disewanya US$ 15 ribu setahun ia sulap menjadi ruangan penyimpanan. Di sana dilakukan proses desalinasi. Seluruh artefak direndam di kolam-kolam buatan. Setelah kadar garamnya dinyatakan nol, dilakukan klasifikasi melibatkan pakar keramik konsultan pemerintah, arkeolog Profesor Naniek Harkatiningsih.
Harta dari kapal karam yang diduga dibawa kapal Sriwijaya itu beraneka ragam. Ada ribuan keramik Cina dari zaman Five Dynasties (907-960). Ada cermin abad ke-10 yang kembarannya hanya ada separuh di Museum Sichia Cina. Ada batu-batu kristal, gelas berukirkan huruf Arab Kufi, pecahan rubi yang diperkirakan dari Dinasti Fatimiyah, patung kecil manusia berkepala anjing, peralatan upacara agama Buddha, dan cepuk-cepuk berisi candu.
"Yang terbaik kami ambil untuk koleksi negara, di Museum Samudraraksa, Magelang, Jawa Tengah, dan Museum Nasional," kata Surya Helmi, Direktur Peninggalan Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di kapal itu, misalnya, ditemukan sepasang gagang golok emas. "Satu kami serahkan ke negara," ujar Adi. Helmi percaya, selama di gudang, tak ada kebocoran. "Untuk membuka gudang harus dengan tiga kunci. Satu kunci di tangan Kementerian Budaya, kunci lain di Departemen Kelautan dan Pak Adi."
Mengapa benda-benda itu baru bisa dilelang pada 2010? Itu karena Menteri Keuangan Sri Mulyani baru meneken aturan tentang tata cara lelang hasil pengangkatan kapal tenggelam pada Desember 2009.
l l l
Adi Agung mengakui yang memberatkan calon pembeli lelang adalah prasyarat menaruh deposito Rp 154 miliar. "Itu peraturan Menteri Keuangan," katanya. Menteri Keuangan menetapkan peserta lelang harus mendepositkan uang 20 persen dari harga yang ditawarkan. Pemerintah menjual seluruh temuan Cirebon dengan harga dasar US$ 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar.
Meski gagal di lelang pertama, Adi optimistis lelang kedua, atau ketiga, bisa meraih pembeli. "Pemerintah Singapura berencana membuat museum khusus arkeologi bawah air. Mereka sudah punya koleksi keramik Dinasti Tang (618-907) yang dibeli adik ipar Lee Kuan Yew dari jarahan Tilman di perairan Batu Hitam." Adi memperkirakan mereka mau membeli keramik dari Five Dynasties karena dengan begitu akan bisa memiliki seri koleksi dinasti secara berurutan. "Museum Cina dan Taiwan juga tengah hunting."
Namun Amir Sidharta, pemilik Balai Lelang Sidharta, menyatakan ketentuan mengenai jaminan deposit itu bila tak direvisi akan tetap membuat lelang gagal. Boedi Mranata, Ketua Himpunan Keramik Indonesia, sependapat. "Tidak lazim di lelang barang seni harus menyetor uang muka dulu. Lelang harta karun Cirebon tak bisa disamakan dengan lelang proyek," katanya.
Di mata Boedi, lelang pada 5 Mei lalu adalah lelang dagelan. Menurut dia, sekitar sebulan sebelum lelang digelar, panitia seharusnya mengirimkan katalog kepada calon peserta yang berpotensi membeli. Panitia juga biasanya akan intensif menghubungi calon peserta lewat telepon atau surat elektronik. Tapi semua itu tak dilakukan. "Promosi juga sama sekali tak ada," kata George Gunawan, Ketua Asosiasi Balai Lelang Indonesia.
Setelah itu, seharusnya ada masa preview, setiap calon peserta bisa bebas melihat-lihat benda yang akan dilelang. "Calon peserta biasanya membawa ahlinya sendiri-sendiri untuk menilai benda-benda itu," kata Boedi. Namun, untuk lelang Cirebon ini, gudang Pamulang tertutup bagi yang tidak membayar deposit. "Bagaimana bisa berminat bila tidak melihat barangnya terlebih dahulu?" komentar Sugiharto Budiman, kolektor keramik dari Surabaya.
Selain soal harga, Boedi menyoroti model lelang satu lot atau satu paket keseluruhan. Menurut dia, sampai sekarang belum pernah ada barang-barang dari kapal karam yang dilelang gelondongan. Semuanya dilelang per item atau per pieces. "Satu pieces bisa berisi puluhan barang jenis yang sama." Boedi juga mempertanyakan harga limit lelang yang dinilai terlalu tinggi.
Tapi, sebagai konsultan pemerintah yang turut menilai harga, arkeolog Naniek Harkatiningsih tak sependapat. Menurut dia, dari kacamata arkeologis, harga itu masih terlalu rendah. "Barang Five Dynasties itu langka. Dinasti itu periodenya pendek (907-960 Masehi). Barangnya tidak banyak ditemukan. Harga pembandingnya tidak ada," katanya.
Menurut Naniek, Five Dynasties adalah dinasti yang pertama kali memperkenalkan porselen berlapis glasir berwarna hijau. Umumnya keramik dinasti Tiongkok, seperti Yuan, Ming, dan Qing, berwarna dasar biru. Sedangkan keramik hijau, menurut peneliti utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional itu, dibuat pada masa Kerajaan Wu-Yue di Provinsi Zhejiang, Cina. Pada masa ini biasanya hanya dibuat barang-barang untuk tribute atau hadiah. "Cuma kita tidak tahu persisnya apakah barang-barang itu dibuat khusus bagi raja-raja atau masyarakat biasa," ujarnya.
Pada 2007, seusai seminar para ahli arkeologi Asia di Singapura, pernah Naniek mengajak beberapa arkeolog dari Cina bertandang ke gudang Pamulang. "Mereka sangat excited. Mereka bilang di museum-museum Cina sendiri tak ada. Maka sepantasnya lebih mahal," katanya.
Boedi Mranata mengakui, dari segi sejarah, keramik Five Dynasties memang langka. Tapi, menurut dia, di pasar lelang, barang Five Dynasties "belum panas" karena dari segi estetika masih kalah bagus dengan porselen dinasti lain. Saat ini, tutur Boedi, yang sedang menjadi primadona kolektor di dunia adalah keramik peninggalan Dinasti Ching (abad ke-17). "Apalagi kalau porselen itu ada stempel kerajaannya, pasti sangat mahal."
Lagi pula, Boedi menambahkan, harga barang-barang keramik dari laut tak pernah lebih tinggi daripada barang-barang dari darat. Harganya hanya sepertiga harga barang darat. Soalnya, barang laut itu biasanya kerepes atau menipis. "Barang-barang laut Cirebon itu, misalnya, glasirnya sudah memudar atau hilang," ujarnya.
Menurut Boedi, pemerintah mestinya mengikuti jejak Vietnam, yang sukses melelang ribuan porselen dari empat kapal yang karam di perairannya-Hoi An, Bin Thuan, Ca Mau, dan Vung Tau. Kapal-kapal itu dulu dalam perjalanan dari Cina ke Batavia. Meski nasionalismenya tinggi, pemerintah Vietnam menggaet investor asing dan menjual, lewawt balai lelang internasional seperti Sotheby's, Christie's, dan Butterfield & Butterfield yang memiliki database kolektor dunia.
"Barang-barang itu dijual per pieces, bukan satu paket. Lelang Butterfield, misalnya, berhasil banget. Keramik asal laut Vietnam menjadi sangat top. Mengapa kita tidak meniru jalan lain yang berhasil?" kata Boedi.
Kesalahan utama pemerintah, menurut Boedi, adalah tidak menjual secara benar. Boedi berpendapat, pemerintah bisa melakukan pelelangan ulang tapi dengan cara yang mematuhi standar lelang internasional. "Pemerintah bisa menggandeng Sotheby's atau Christie's ke Jakarta, dan di situ biarlah harga terbentuk secara obyektif," katanya.
l l l
Namun keinginan kolektor keramik itu tampaknya sulit terwujud. Pekan lalu, melalui Menteri Kelautan dan Perikanan, pemerintah telah menetapkan tidak melanjutkan lelang. Artefak-artefak itu bakal disimpan di museum maritim yang akan dibangun.
Saat ini, tutur Menteri Fadel, sedang dicari ide kreatif mencari uang untuk membangun museum yang tak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Fadel tampak mencari jalan dengan menemui Duta Besar Cina. Ia menawarkan kerja sama mendirikan museum, di Indonesia dan Cina. Namun tampaknya ini masih sebatas gagasan. Soalnya, Fadel belum bisa menjelaskan secara terperinci sumber dana yang digunakan. "Masih dikaji," ujarnya.
Pemerintah juga agaknya menaati nasihat UNESCO agar tetap membiarkan barang-barang kapal karam sebagai cagar budaya di bawah laut. Namun, bagi banyak kalangan, itu tidak menjamin barang tetap aman. "Saya yakin barang akan habis. Nelayan dan sindikat yang mengambil secara ilegal makin banyak," kata Boedi.
Juga dikhawatirkan, dengan tidak adanya lelang, banyak pemain besar akan kembali berani memilih pengangkatan dengan menyogok oknum pemerintah. Direktur Operasional Cosmix Luc Heymans sendiri mengeluh, untuk pengangkatan harta Cirebon, telah mengeluarkan US$ 10 juta atau sekitar Rp 92 miliar. "Padahal, kalau memakai jalur pintas, saya tak akan mengeluarkan uang sebanyak itu. Oleh teman-teman, saya disebut stupid investor," katanya seraya tertawa mengejek dirinya sendiri.
Menurut Luc, biaya yang besar itu juga disebabkan oleh proses perizinan di Indonesia yang rumit. Terlalu banyak instansi pemerintah yang terlibat. "Di Filipina, izin pengangkatan hanya dari museum nasional karena barang dianggap barang seni." Walhasil, menurut Luc, investasi pencari harta karun di Indonesia sangat tinggi dan belum tentu mendapat hasil. "Apalagi pemerintah Anda selalu tidak mau mengeluarkan biaya, nol."
Fadel sendiri mengatakan pengusaha yang secara resmi telah mengangkat barang muatan kapan tenggelam akan diberi ganti rugi. "Pemerintah akan bayar," ujarnya.
Tapi, sebagai catatan, selain PT Paradigma Putra Sejahtera dan Cosmix, masih ada perusahaan lain yang telah mengangkat barang dari sejumlah titik di laut Indonesia dan menyimpannya di gudang masing-masing. Salah satunya milik pengusaha Budi Prakoso dari PT Tuban Oceanic Research & Recovery. Di gudangnya, di Sawangan, ia menyimpan ribuan keramik Dinasti Yuan yang diangkatnya dari kapal tenggelam di perairan Karang Cina, Belitung, pada 2001. Ia telah mendaftarkan barang-barangnya masuk program lelang pemerintah.
Menurut Budi, seharusnya, setelah lelang barang Cosmix dan Paradigma Putra Sejahtera, tahun ini menyusul dilelang barang-barang temuannya. "Saya tunggu lelang ini selama tujuh tahun. Lelang harus tetap ada. Mekanisme lelang kemarin yang salah kaprah yang harus diganti."
Nurdin Kalim, Pramono, Ismi Wahid, SJS
Selengkapnya...