Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arkeologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Agustus 2010

Sepenggal Pesan Harta Karun di Perairan Indonesia


Pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.
Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987). Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.

Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.

”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).

Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.

”Kami tidak mengetahui nilai lelang itu, tetapi kami sempat meminta dan mendapatkan 1.500 keramik untuk disimpan di Indonesia sebagai salah satu bentuk pelestarian peninggalan bawah air,” kata Widiati

Peninggalan bawah air

Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.

National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).

Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.

”Dalam perjalanan, kapal-kapal itu ada yang karam dan tenggelam. Penyebabnya adalah badai di laut, serangan bajak laut, tabrakan dengan kapal lain, dan perang,” kata Widiati.

Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mencatat, di Indonesia ada enam daerah penemuan benda peninggalan bawah air, yaitu Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bangka Belitung, Cirebon (pantai utara Jawa Barat), Kalimantan Barat, dan Rembang (pantai utara Jawa Tengah).

Misalnya, pada tahun 1989, di Pulau Buaya, Kepulauan Riau, PT Muara Wisesa Samudera atas izin Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (Panitia Nasional BMKT) mengangkat 30.000 keramik utuh dan barang-barang dari logam, kayu, dan kaca. Barang-barang yang berasal dari Dinasti Song (abad X-XIII) itu berbentuk mangkuk, piring, buli-buli, tempayan, cepuk, dadu botol, vas, dan kendi.

Tahun 2005, PT Adikencana Salvage atas seizin Panitia Nasional BMKT mengangkat 25.000 keramik China dan 15.000 porselen zaman Dinasti Ching di Karang Heluputan dan Teluk Sumpat, Kepulauan Riau. Perusahaan itu juga menemukan koin, peralatan timbang logam, dan tungku China.

Benda-benda serupa juga ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Bangka Belitung, Cirebon, dan Kalimantan Barat. Khusus di Kepulauan Seribu, PT Sulung Segarajaya dan Seabed Explorations, perusahaan Jerman, menemukan 11.000 benda yang terbuat dari aneka logam, seperti emas, perak, perunggu, dan timah.

Menurut Widiati, temuan- temuan itu berasal dari abad X. Dari identifikasi sebagian badan kapal, kapal itu buatan Indonesia yang berlayar dari ibu kota Sriwijaya, Palembang, menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur.

”Para pemburu harta karun itu dapat menemukan lokasi kapal karam berdasarkan catatan perjalanan kapal-kapal tersebut yang tersimpan di berbagai museum atau pembuktian atas laporan dan cerita dari mulut ke mulut warga pesisir di lokasi terdekat,” katanya.

Pada medio 2008 di Rembang, tepatnya di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, sejumlah warga pesisir menemukan perahu kuno relatif utuh di tambak yang berjarak sekitar 1 kilometer dari pantai. Perahu itu berlebar 4 meter dan panjang 15,60 meter

Profesor Pierre-Yves Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, yang diundang Balai Arkeologi Yogyakarta untuk meneliti perahu, menyatakan, perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670-780 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari teknologi pembuatan perahu, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.

Di perahu itu ditemukan pula benda-benda lain, seperti tempurung kelapa, potongan tongkat, dan kepala arca perempuan China berdandan Jawa. Diduga perahu itu merupakan perahu dagang antarpulau.

Saat ini, perahu itu dalam penanganan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Balai tersebut telah mengambil sejumlah contoh berupa kayu perahu, tanah, dan air di sekitar perahu untuk menentukan metode konservasi yang tepat.

Bukti sejarah

Direktorat Peninggalan Bawah Air dan Panitia Nasional BMKT tidak ingin lagi kehilangan harta karun bawah air. Untuk itu, mereka berupaya menyosialisasikan perlindungan temuan bawah air kepada pemerintah daerah dan masyarakat pesisir.

Widiati mengatakan, benda-benda peninggalan bawah air tidak sekadar mempunyai nilai ekonomis, melainkan juga nilai edukatif dan pelestarian. Artinya, kalau benda-benda itu dilarikan ke negara-negara lain, Indonesia tidak lagi memiliki peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.

Meskipun benda itu diam, mereka dapat memberikan informasi tentang sejarah perdagangan antarnegara melalui laut, teknologi pembuatan benda, budaya, dan kemajuan suatu negara atau kerajaan. Benda-benda tersebut sekaligus menjadi bukti nyata pelayaran yang pernah dilakukan beberapa bangsa.

”Benda-benda peninggalan bawah air itu termasuk benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya,” kata Widiati.

Adapun bagi Manguin yang menekuni temuan perahu atau kapal, alat transportasi laut itu merupakan gambaran sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudra, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.

Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.

”Dari temuan-temuan yang mengisahkan sejarah dan budaya bangsa-bangsa pelaut, Pemerintah Indonesia seharusnya belajar arti penting laut bagi perkembangan sebuah bangsa, bukan malah menganaktirikan laut,” kata Manguin.
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Selasa, 13 Juli 2010

Cerita Sutaasoma


Raja Sri Mahaketu (seorang keturunan Kuru) di Hatina diancam oleh rombongan raksasa yang merusak dusun-dusun dan pertapaan-pertapaan. Menurut kepala Brahmin (munindra) hanya seorang putra keturunan raja sajalah yang dapat menghancurkan rombongan raksasa itu. Terdorong oleh pendapat itu, raja ingin mempunyai putra yang diharapkan itu. Raja melakukan yoga di hadapan Jina. Raja mendapatkan wahyu bahwa sang Bodhisatta sendiri yang akan menjadi putranya.

Tidak beberapa lama istri raja mengandung dan setelah sampai waktunya melahirkan seorang putra. Para dewa turun di dunia dan menghormatinya dan mengatakan bahwa sang Jina telah dilahirkan. Putra itu diberi nama Sutasoma.
Setelah Sutasoma menginjak dewasa apabila melakukan kebaktian agama di bawah pimpinan Sri Jineswarabajra, ia adalah guru sang raja. Raja berkeinginan Sutasoma segera menikah dan naik tahta, menggantinya sebagai raja. Sutasoma dipanggil raja, diberi tahu tentang kehendaknya itu. Raja menasehatinya bahwa :
• Sebagai raja harus mensejahterakan dunia.
• Dengan menikah dan memerintah berarti melaksanakan kemanunggalan dengan sang Budha.
• Seorang raja harus memberantas penyelewengan yang mengakibatkan kehancuran seluruh dunia.
Sutasoma menjawab bahwa ia sadar tentang kekurangannya untuk menerima beban berat menggantikan ayahnya. Untuk menambah kekurangan itu, hanya di pegungan keheningan akan dapat dicapai, bukan di tengah-tengah dunia ramai. Setelah mendapat kesempurnaan di tempat yang hening itu, ia akan dapat menyelamatkan dan memejukan kesejahteraan dunia.
Keinginan raja didukung oleh patih Jayendra, ia mengingatkan Sutasoma tentang beban berat yang dipikul ayah dan rakyatnya. Maka agar Sutasoma segera menggantikannya
dan segera menikah. Setelah mendapat keturunan dan pantas menggantikannya, maka bebas mengundurkan diri dan hidup di pertapaan. Pendapat patih didukung oleh Mahosadhi seorang pendeta keraton (purohita). Ia menambahkan bahwa keheningan dapat diraih dalam kehidupan berkeluarga sambil menurunkan putera dan melakukan yoga. Sutasoma tidak terpengaruh nasehat kedua orang itu, ia tetap berpendapat bahwa satu-satunya tempat untuk mencapai keheningan ialah di pegunungan.
Pengembaraan Sutasoma dimulai waktu tengah malam dengan diam-diam ia meninggalkan tempat tidurnya tanpa diketahui para penjaga pintu keraton. Raja dan ratu sangat sedih setelah mendapat laporan bahwa Sutasoma meninggalkan keraton.
Berbagai pengalaman didapatkan Sutasoma dalam pengembaraannya. Sutasoma telah melewatkan dusun-dusun dan sampai di kaki pegunungan. Pada waktu matahari tenggelam ia memasuki sebuah kuburan dan menghormati dewi Bhairawi di sebuah candi untuknya. Setelah melakukan yoga, Sri Widyatkarali (nama lain dari Bhairawi atau Durga) menampakkan dirinya dan menunduk di hadapan dan memuja Sutasoma, sebab ia telah dapat menaklukkan segala hawa nafsunya, ia adalah inkarnasi sang Budha. Sang Dewi mengajarkan mantra yang disebut Mahahredaya, mantra itu dapat menghancurkan segala kejahatan kekuatan musuh, segala macam penyakit dan kemalangan. Sang Dewi juga menunjukkan pertapaan Bhatara Guru di gunung Semeru. Setelah itu sang Dewi lenyap dari penglihatan.
Sutasoma melanjutkan perjalanan menuju ke puncak gunung Semeru seperti yang disarankan sang Dewi Durga. Setelah tujuh hari perjalanan sampailah ia di sebuah pertapaan gunung Semeru. Ia disambut pemimpin pertapaan bernama Kesawa. Dalam pembicaraan Kesawa menanyakan tujuannya Sutasoma sampai di pertapaan itu. Jawab Sutasoma minta petunjuk agar dapat mencapai puncak gunung Semeru.
Sutasoma melanjutkan perjalanan lebih lanjut, dan sampailah di pertapaan Budha yang dipimpin oleh Sumitra. Sutasoma mendapat penjelasan dari Sumitra. Ternyata Sumitra adalah paman ibunya (Prajnadhari). Kakak ibu Sutasoma adalah raja Kasi yang telah digantikan oleh putranya (Dasabahu). Adik perempuan Dasabahu bernama Candradewi merupakan calon istri yang tepat bagi Sutasoma.
Sutasoma minta kepada Sumitra tentang kehidupan raja Dasabahu. Diceritakan bahwa dulu ayahnya mengingini seorang anak yang gagah perkasa. Bersama dengan istrinya menuju ke pegunungan untuk bersemedi. Sang Brahma dengan wajah yang menakutkan menampakkan diri dan akan menelan mereka, akan tetapi ujian itu dapat mereka lalui. Kemudian sang Brahma menampakkan lagi dengan wajah yang ramah dan mangabulkan keinginan mereka yaitu mempunyai putra yang gagah perkasa. Raja dan permaisuri pulang ke keraton. Istri mengandung, melahirkan seorang putra dengan sepuluh lengan. Raja sedih akan kejadian itu, maka anak akan dibuang ke laut. Tiba-tiba putra berubah menjadi tampan, diberi nama Brahmaja (putra Brahma) atau Dasabahu (berlengan sepuluh). Setelah sampai waktunya Dasabahu naik tahta menggantikan ayahnya dan bersekutu yang setia dengan raja Hastina.
Sumitra melanjutkan ceritanya. Ketika Suciloma (raksasa menyerupai Kala) mengacau di seluruh permukaan bumi. Sang Jina (Budha) menjelma dalam diri pangeran Agrakumara, dapat mengalahkan Suciloma. Suciloma tidak dibunuh asal sanggup tidak mengganggu manusia. Suciloma menjadi putera raja Sudasa di Ratnakanda, menekuni terhadap sang Budha.
Rudra menampakkan diri dan marah terhadap juru masaknya karena menghidangkan masakan yang dimakan anjing. Jayantaka (Purusada = pelahap manusia) dapat dikalahkan oleh inkarnasi sang Budha yaitu Sutasoma. Setelah selesai bercerita Sumitra mendesak Sutasoma segera menjadi raja di Hastina. Tiba-tiba muncul dewi Bumi juga minta agar Sutasoma menyelamatkan bumi dari kehancuran Kali. Semua permintaan itu belum dapat merubah pendirian Sutasoma.
Sutasoma bersama Kesawa melanjutkan pengembaraannya, sampai di sebatang pohon Kepoh, kediaman anak Suciloma (berkepala gajah, berwatak buas, bernama Durmukha atau Gajamukha). Karena tidak mengindahkan nasehat Kesawa, Sutasoma mendekati pohon Kepoh, disambut dengan raungan yang menakutkan, perkelahian tak terhindarkan. Gajamukha dapat dikalahkan dan akhirnya menjadi murid Sutasoma.
Gajamukha dan Sutasoma diserang seekor naga. Gajamukha bermaksud membunuh naga tetapi dilarang oleh Sutasoma. Naga bersujud di hadapan Sutasoma. Sutasoma bertemu seekor harimau betina yang akan melahap anaknya sendiri. Maksud itu dihalang-halangi, Sutasoma sanggup dilahapnya sebagai gantinya. Dunia akan berkabung jika mendengar Sutasoma mati dilahap harimau. Oleh karena itu dewa Indra turun di dunia menghidupkan lagi Sutasoma. Akhirnya harimau menjadi murid Sutasoma.
Gajamukha, naga, dan harimau minta pelajaran tentang keheningan, apakah keheningan dapat dicapai lewat jalan kemurnian yang sempurna atau harus melewati kematian. Dijelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara hidup dan kematian asal manusia mau berbuat baik terhadap sesama makhluk. Jalan yang harus dilalui dapat berupa hidup atau mati, yoga dan kebajikan.
Para dewa cemas sebab Jayantaka muncul kembali dengan niat kejahatannya. Indra mengutus sejumlah bidadari yang dipimpin Sukirna dan Tilottama untuk menggoda Sutasoma yang sedang bersemedi di puncak gunung Semeru. Usaha para bidadari gagal. Indra menjelma menjadi bidadari dan menggoda Sutasoma. Waktu Indra akan mencium kaki Sutasoma lenyap, tampak Wairocana di atas padma dikelilingi para Jina dan dewa. Setelah menerima segala pujian Wairocana menjadi Sutasoma kembali.
Sutasoma mengakhiri semedinya, sadar bahwa ia seorang Budha. Sutasoma ditemani Kesawa turun dari puncak Semeru menuju Bharata. Di tengah perjalanan bertemu Dasabahu yang sedang berkelahi dengan pengikut Purusada. Pengikut Purusada dapat dikalahkan, lari ke Sutasoma dan berjanji akan melepaskan watak jahatnya. Dasabahu merangkul Sutasoma dan meminta agar ia mengawini adiknya. Mereka bersama naik kereta melewati kraton Awangga yang telah dikalahkan oleh Dasabahu. Akhirnya mereka sampai di kraton Dasabahu.
Ketiga anak Dasabahu dikenalkan dengan Sutasoma di suatu danau. Dikatakan bahwa danau itu dulu dibuat oleh raja Jina (Wairocana) bersama istrinya Locana waktu masih di surga. Sekarang mereka turun ke bumi menjelma pada Sutasoma dan istrinya. Setelah beberapa waktu tinggal di kraton Dasabahu, mohon ijin kepada raja ingin menjenguk orang tuanya di Hastina.
Purusada sudah melahap sembilan puluh sembilan raja. Sekarang perhatiannya ditujukan ke raja Jayawikrama. Terjadi pertempuran, raja Jayawikrama meninggal, istri ikut meninggal terjun di api unggun.
Raksasa Purusada berserta raja sekutunya yaitu raja Kalingga, Magadha dan Awangga ke Hastina. Sutasoma menawarkan diri sanggup menjadi korban agar raja lainnya dapat diselamatkan. Terjadi pertempuran.
Kala bergembira karena Sutasoma sanggup menyerahkan diri. Kala berubah menjadi seekor naga akan menelannya, tetapi tidak jadi justru menjadi murid Sutasoma. Di bawah Sutasoma Kala dan Purusada hidup sebagai seorang biksu dan diberi pelajaran tentang dharma dan berbagai bentuk yoga.
Setelah beberapa waktu Sutasoma dan istrinya pulang ke surga Jina. Purusada menerima pahala karena tapanya sebagai murid Jina. Kala mendapat pangkat Pasupati. Ardana (putra Sutasoma) menggantikan ayahnya sebagai raja di Hastina.

Lontar Koleksi Museum Sonobudoyo, dikerjakan bersama DR. Riboet Darmosoetopo
Selengkapnya...

Kamis, 08 Juli 2010

Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Ronggowarsito

Seperti layaknya Hayam Wuruk, nama Ronggowarsito adalah tokoh klasik terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Berg sampai mengatakan bahwa dialah (Ronggowarsito) sang pujangga penutup. Karya yang dihasilkan sekitar 68 buah, meliputi berbagai bidang yaitu filsafat, babad, jangka, primbon, sejarah, silsilah, pendidikan, ilmu pengetahuan alam, pedalangan, dan perkamusan. Hasil karya Ronggowarsito yang berisi tentang pemerintahan dan kemimpinan diantara terdapat pada Pustakaraja Madya yang meliputi: serat Darmasarana, Serat Yudayana, Serat Gendrayana, Serat Budhayana, Serat Sariwahana, Serat Ajidama, Serat Mayangkara, Serat Purusangkara, Serat Anglingdarma, Serat Ajipamasa, dan Serat Witaradya.

Dalam serat Ajipamasa termuat ajaran Asthabrata yaitu di dalam pupuh XI Girisa bait 1-15. Intinya adalah seorang raja atau pemimpin harus mempunyai sifat seperti pratala ‘bumi/tanah’, tirta ‘air’, dahana ‘api’, maruta ‘angin’, surya ‘matahari’, candra ‘bulan’, sudama ‘bintang’. Eyang buyut Ronggowarsito, yaitu Yasadipura I, juga pernah menggubah cerita Ramayana bahasa Jawa Kuna ke dalam bahasa jawa Baru (?) dan diberi judul Serat Rama. Di dalam cerita tersebut terdapat pula ajaran Asthabrata sama seperti naskah induknya, namun terdapat perbedaan dalam penyebutan delapan brata. Jika dalam Ramayana kakawin Asthabrata disebutkan dengan nama dewa-dewa lokapala, maka Serat Rama menyebutnya dengan sebutan benda-benda di bumi, misalnya dewa agni diganti dengan sifat api. Karya lain Ronggowarsito yang berkaitan dengan kepemimpinan ialah Nitisruti.
Selain Asthabrata, di dalam serat Ajipamasa juga terkandung ajaran Nistha-Madya-Utama. Ajaran ini diberikan oleh Prabu Kusumawicitra kepada Prabu Gandakusuma dan Prabu Jayasusena. Selain itu, ajaran ini juga disampaikan oleh Ajar Sarabasata kepada putranya Sang Sasana. Inti ajarannya sebagai berikut :
1. Nistha ‘nista’
Disebut nistha ‘nista’ jika seandainya raja (pemimpin negara) mempunyai sifat melikan ‘ingin memiliki’ terhadap harta benda milik rakyat atau para penggawa. Hal ini yang harus dihindari raja meskipun raja bersedia membeli dengan harga tinggi. Seandainya rakyat atau pemiliknya kurang senang, hendaknya niat itu diurungkan sebab dapat menumbuhkan sikap tidak percaya rakyat kepada pemimpinnya. Namun bila raja benar-benar menginginkannya, maka ia dapat menanyakan kepada pemiliknya dengan kata-kata yang lemah lembut.
2. Madya ‘tengahan/sedang’
Disebut madya seandainya raja memiliki sifat pemurah. Apabila ada rakyatnya yang kekurangan dan dating kepada raja, raja berkewajiban memberikan dana secukupnya sesuai kebutuhan rakyat tersebut. Namun raja juga boleh menolak. Apabila ada seorang yang menghadap dan mempersembahkan barang berharga kepada raja, maka raja berkewajiban memberikan imbalan barang berharga lainnya yang pantas sebagai pengganti. Selain itu raja hendaknya memiliki sifat gemar memberikan ganjaran kepada rakyat atau penggawa yang berhasil menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Tetapi raja juga berkewajiban menghukum kepada siapa saja yang bersalah.
3. Utama ‘utama’
Perbuatan utama maksudnya seandainya raja memiliki sifat berbudi bawa leksana. Berbudi berarti memiliki perasaan tulus ikhlas dalam hati dan pikiran, gemar memberikan dana atau ganjaran setiap hari. Bawa leksana berarti menetapi dan menepati janji yang pernah ia ucapkan. Seandainya raja memiliki sifat berbudi bawa leksanaa itu, niscaya hati dan pikiran akan suci, bersih, sentosa, teguh, tegar dalam pendirian, mampu mengatur, mengendalikan, dan menguasai negara yang ia perintah. (Tedjowirawan, 2001: 197-188).
Ada empat hal yang hendaknya dilakukan oleh raja dalam mengatur tata pemerintahan, yakni :
1. Anata ‘mengatur’, maksudnya raja harus mampu mengatur tata pemerintahan dengan baik.
2. Aniti ‘meneliti’, maksudnya raja hendaknya meneliti para pegawainya secara rahasia atau dalam hati saja.
3. Apariksa ‘memeriksa’, maksudnya memeriksa isi negara.
4. Amisesa ‘mengadili’, maksudnya raja hendaknya memberantas segala kejahatan di kerajaannya.
Serat Ajipamasa menyebutkan hal-hal yang menyebabkan calon abdi negara berbuat nista ada tujuh, yakni : plin-plan, harta benda orang lain, dengan jalan mengadukan (kejelekan orang lain), mementingkan diri pribadi, di dalam batin (pikirannya) merasa mendapat kepercayaan raja, tidak menepati, dan iri dengki. Penyebab perbuatan madya yaitu : rajin, mengindahkan dan menurut, dapat memahami/tanggap, melaksanakan, menerima nasib, takut larangan, dan dapat menyesuaikan situasi dan kondisi. Demikian pula seorang abdi negara yang utama pun bermula dari tujuh sikap, yaitu: kesungguhan, hemat, teliti, berhati-hati, mengetahui, kesentosaan hati, dan mantap.

Selengkapnya...

Rabu, 07 Juli 2010

Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Hayam Wuruk

Tokoh Hayam Wuruk mungkin dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin/raja dengan “paket super lengkap”, sepanjang sejarah perjalanan bangsa (masa kerajaan Hindu-Budha). Sepak terjang Hayam Wuruk dapat diketahui karena terdokumentasikan oleh “wartawan” kerajaan yang bernama Prapanca, yang dipaparkannya secara mendetail. Nampaknya puncak kebesaran kerajaan di Indonesia diperoleh oleh Majapahit dengan hayam Wuruk sebagai rajanya dan Gadjah Mada sebagai mahapatihnya.

Seluruh wilayah nusantara dapat dipersatukan ditambah negara-negara tetangga menjadi bawahan. Melalui kitab nagarakretagama dan prasasti dapat diperoleh informasi mengenai tata pemerintahan, social budaya, perekonomian, dan sebagainya. Tata kelola pemerintahan Majapahit merupakan yang terlengkap diantara kerajaan-kerajaan lainnya sepanjang mengacu pada data-data yang ada sekarang.
Hayam Wuruk merupakan sosok raja yang senantiasa memperhatikan rakyatnya. Nagarakretagama menceritakan perjalanan raja ke daerah-daerah dalam rangka peninjauan. Dalam konsep Asthabrata, raja yang baik adalah raja yang dapat mengerti keadaan dan kemauan rakyatnya. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk ‘turun ke bawah’ langsung. Nagarakretagama menceritakan bahwa ketika raja sampai di suatu daerah maka ia akan menginap beberapa hari untuk beristirahat sambil beraudiensi dengan masyarakat secara langsung. Ciri lain yang menonjol pada diri Hayam Wuruk ialah sikapnya yang tidak otoriter, hal tersebut dapat dilihat dari dibentuk Dewan Pertimbangan Agung. DPA bersidang setiap kali raja akan akan mengambil keputusan mengenai perkara penting yang menghendaki kebulatan pendapat dari kerabat. Suryabrata dalam konsep Asthabrata mengajarkan kepada raja agar memikirkan secara matang tindakan yang akan diperbuat. Hal tersebut diwujudkan oleh Hayam Wuruk dengan mengadakan musyawarah setiap kali akan memutuskan sesuatu, seperti misalnya ketika akan mencari pengganti Gadjah Mada. Dalam musyawarah tidak dicapai kata sepakat karena peserta musyawarah berpendapat bahwa tidak ada yang sanggup menggantikan Patih Gadjah mada, sehingga diputuskan tidak ada yang menggantikan posisi Gadjah Mada sebagai mahapatih.
Jika kepemimpinan Hayam Wuruk dikaitkan dengan Asthabrata, maka pemerintahannya adalah sebagai jawaban atas hipotesis kaitan antara Asthabrata dengan hasil pemerintahan yang dicapai. Para ahli sepakat dengan tesis bahwa Majapahit ialah kerajaan terbesar di Nusantara dengan Hayam Wuruk dan Gadjah Mada sebagai tokoh sentralnya. Karena apa? Karena semua ucapan dan tindakan Hayam Wuruk senantiasa mengacu pada Asthabrata.

Selengkapnya...

Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantoro merupakan tokoh perjuangan, sehingga tidak dapat disangsikan lagi jiwa kepemimpinannya. Selain sebagai tokoh pendidikan, beliau juga merupakan jurnalis, politikus, patriot, dan juga negarawan. Keinginannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa direalisasikan dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1923. Gagasannya yang terkenal ialah semboyan Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Sesungguhnya semboyan tersebut bukan hanya untuk diterapkan pada pendidikan, namun lebih luas lagi dapat diaplikasikan pada figure pemimpin, baik pemimpin pusat maupun daerah.

Selengkapnya...

Tokoh-Tokoh Besar Indonesia - Tanakung

Jika melihat ringkasan cerita Lubdhaka sebagaimana yang disusun oleh Riboet Darmosoetopo, maka Tokoh Tanakung dapat dikatakan belum terlihat gagasan-gagasannya mengenai kepemimpinan maupun pemerintahan. Inti dari cerita Lubdhaka tersebut lebih cenderung pada masalah social kemasyarakatan dimana Lubdhaka diposisikan sebagai pemburu. Dalam kitab Karmawibhangga, seorang pemburu akan mendapatkan karma berupa penyiksaan di neraka.


Selengkapnya...

Tokoh-Tokoh Besar Indonesia (Mpu Tantular)

Tokoh Mpu Tantular seringkali dikaitkan dengan sebuah karya sastra yang sangat terkenal yakni Sutasoma yang tidak lain adalah hasil karyanya sendiri. Gagasan-gagasan seorang Tantular dapat dilihat dari isi kitab yang dihasilkannya yaitu Sutasoma. Sutasoma menceritakan kehidupan sorang raja yang bernama Sutasoma, mulai dari sebelum dilahirkan sampai ketika dirinya pulang ke surga Jina.

Menurutnya, seorang raja yang baik dan berwibawa ialah raja yang mampu atau rela berkorban demi orang lain. Hal ini dapat dilihat ketika Sutasoma rela mejadi korban raksasa Kala dengan persyaratan 100 orang raja yang dipersembahkan oleh Purusada dibebaskan dari lahapannya, sampai akhirnya Kala tidak berhasil membunuhnya dan akhirnya menjadi kerabatnya. Gagasan Sutasoma yang lain adalah bahwa menghadapi musuh tidak harus dengan angkat senjata, melainkan dengan cara yang lebih santun yaitu diplomasi dengan keluhuran budi dan kekuatan batinnya. Semua yang dikalahkan tidak dianggap sebagai bawahannya, tetapi dianggap sebagai kerabat. Satu yang terpenting dari gagasan Sutasoma ialah bhinneka tuńgal ika, tan hana dharmma mańrwa, artinya : keanekaan itu hakekatnya satu (hanya Esa), sebab tidak ada yang hakiki (kebenaran) itu lebih dari satu. Ini adalah petuah dari Sutasoma mengenai keresahannya terhadap pertentangan agama yang sering terjadi. Tantular menempatkan Sutasoma sebagai raja sangat toleran terhadap warganya, yaitu menyangkut kerukunan antar umat beragama karena pada masa tersebut berkembang beberapa agama.
Selengkapnya...

Indahnya Warisan Budaya Masa Lalu

“Saya bangga jadi anak Indonesia karena banyak sejarah
yang dapat diambil pelajaran”.

Itulah sedikit celotehan yang dituangkan oleh seorang pelajar SD di atas selembar kain kesan dan pesan ketika menyaksikan pameran purbakala yang diadakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang di Kota Cirebon beberapa waktu lalu. Sepintas, satu baris kalimat tersebut tampak sangat sederhana, namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat makna yang luar biasa. Tentu kita harus menakarnya dari posisi berapa usia anak tersebut. Jika yang melontarkan kalimat tersebut adalah anak seusia SMA, sudah pasti itu ialah hal yang biasa.

Indonesia adalah sebuah negeri kepulauan yang seolah tidak pernah bosan merasakan manis pahit perkembangan peradaban. Dimulai dari peradaban yang paling primitif yaitu ketika manusia masih menggantungkan hidupnya pada batu-batuan, kemudian ketika masyarakat disuapi doktrin-doktrin agama Hindu dan Budha hingga tercipta megahnya Candi Borobudur. Perjalanan tidak berhenti sampai di situ saja. Pengaruh agama Islam pun seolah tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam percaturan kebudayaan di Indonesia. Adalah makam Fatimah Binti Maimun di Leran Gresik, yang sampai saat ini masih dipercaya sebagai bukti tertua masuknya masyarakat muslim di Pulau Jawa. Ketika penjajah Kolonial Belanda menapakkan kakinya di Indonesia, imbasnya terasa sangat luas. Semua lini kehidupan terpengaruh oleh budaya barat yaitu secara fisik dan mental yang termanifestasikan dalam beragam bentuk.
Pada era sekarang ini, masyarakat Indonesia diuji ketahanannya dari dahsyatnya serbuan budaya asing yang mendera setiap sektor kehidupan. Jika ditarik ke belakang ternyata hal tersebut pun telah terjadi pada masa lampau seperti yang telah diuraikan di atas. Ketika manusia prasejarah dihadapkan pada sebuah kebudayaan asing, yaitu India, mereka dengan sangat mudah dapat menerimanya. Dalam hal keyakinan, hampir terdapat persamaan pada kedua kepercayaan tersebut, yang paling utama adalah objek dari sesuatu yang mereka puja. Masyarakat prasejarah, sebelum mengenal agama Hindu, mendasarkan kepercayannya kepada hal-hal gaib dalam hal ini nenek moyang mereka. Mereka percaya akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama pengaruh kuat dari nenek moyang yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman, sehingga dalam setiap prosesi ritualnya selalu berkaitan dengan hal tersebut.
Ajaran yang dibawa oleh orang-orang India ketika masuk di nusantara tidaklah jauh berbeda dari kepercayaan kaum prasejarah. Jika masyarakat prasejarah percaya kepada hal-hal gaib seperti roh nenek moyang, maka dalam agama Hindu pemujaan ditujukan kepada para dewa trimurti ,yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu yang diwujudkan dalam bentuk arca. Dari kemiripan ini, tidak mengherankan jika masyarakat prasejarah begitu mudah menerima sistem yang baru dalam kehidupan mereka. Namun, sangatlah gegabah kiranya jikalau kita terlalu cepat menarik kesimpulan betapa mudahnya orang-orang India menanamkan pahamnya kepada mereka. Tentu saja banyak sekali kesulitan yang dihadapi terutama sekali dalam hal bahasa penyampaian.
Kreatifitas
Sebagai sebuah bangsa yang kaya akan nilai-nilai tradisional, akan sangat ironis tatkala nilai-nilai tersebut hilang begitu saja diterkam budaya-budaya luar yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Begitu banyaknya warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, baik absrak ataupun konkret, yang dapat membangkitkan semangat persatuan bangsa ditengah-tengah kemajemukan budaya bangsa. Sebuah pertunjukan spektakuler yang ditampilkan pada saat puncak peringatan 100 tahun Indonesia Bangkit, dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk menunjukkan bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara lain yaitu didukung oleh ribuan hasil budaya bangsa.
Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia pada masa lampau ialah orang-orang yang kreatif terutama dalam mengelola arus globalisasi masa lalu. Serangan budaya asing yang mendera mereka begitu kuat, sehingga diperlukan sebuah saringan yang mampu mengontrol kebudayaan baru itu. Saringan itu adalah kreatifitas. Dengan adanya kreatifitas, manusia dapat mempertahankan hidup contohnya dalam beradaptasi dengan lingkungan baik fisik maupun budaya. Bangsa Indonesia harus bangga memiliki nenek moyang yang kreatif yaitu kreatif dalam segala hal khususnya dalam memadukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda sehingga terciptalah sebuah bentuk budaya yang baru yang dapat diterima masyarakat luas.
Salah satu contoh budaya materi hasil karya nenek moyang adalah bangunan punden berundak sebagai representasi upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang. Bangunan ini banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, contohnya adalah Lebak Sibedug yang ada di Kabupaten Lebak, Pugungraharjo Lampung, dan sebagainya. Para ahli menyepakati bahwa bangunan ini adalah sebagai cikal bakal dari bangunan candi, ambil saja contoh Candi Borobudur. Hal inilah yang memberikan nilai lebih kepada candi-candi yang ada di Indonesia karena ternyata sangat berbeda dengan pakem aslinya yang ada di India. Di Indonesia, candi yang memiliki arsitektur hampir sama dengan gaya di India hanya terdapat di kompleks percandian Dieng Wonosobo, sedangkan lainnya adalah hasil kreatifitas masyarakat Indonesia.
Local wisdoms
Sebaris kalimat pembuka di atas bagi saya adalah hal yang patut ditanamkan pada benak anak-anak Indonesia yang notabene sebagai generasi penerus bangsa. Ketika nilai-nilai luhur budaya bangsa mulai terkikis dan bahkan suatu saat akan hilang, maka bangsa ini telah kehilangan identitas aslinya. Walaupun pada kenyataannya kita tidak boleh menafikan bahwa sebuah kebudayaan pasti akan mengalami perubahan seperti halnya yang terjadi pada masa lalu. Namun, yang paling penting adalah apa yang dapat kita ambil pelajaran dari masa lalu untuk menapak masa depan yang lebih baik. Satu hal yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia ialah bahwa nenek moyang telah mewariskan kepada kita ratusan bahkan ribuan kearifan local masyarakat masa lalu, baik dalam bidang hukum, budaya, sosial, ekonomi, religi, dan lainnya.
Ketika beberapa waktu yang lalu bangsa Indonesia dihebohkan oleh pertikaian yang berbau SARA di beberapa daerah yang harus mengorbankan banyak nyawa, seharusnya kita malu jika dipaksa untuk membuka kembali buku catatan masa kebudayaan Hindu-Budha-Islam di Jawa Timur. Pada masa itu, agama yang berkembang di masyarakat ialah Hindu dan Budha sebagai agama mayor dan Islam sebagai agama minor. Keberadaan masyarakat muslim sudah mulai tampak pada masa ini. Jika kita mengunjungi salah satu situs makam di Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur, kita serasa menggunakan mesin waktu kembali ke abad XV, dimana kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah nusantara. Kita dapat membayangkan betapa indahnya hidup pada masa itu, hidup di dalam sebuah masyarakat yang menunjung tinggi toleransi beragama.
Di area situs tersebut terdapat dua buah kompleks makam yang bernama Makam Syekh Jumadil Qubro dan Makam Tujuh. Makam yang pertama keadaannya sudah kacau balau karena pemanfaatan yang sangat bertentangan dengan pelestarian. Semuanya sudah berhiaskan keramik putih. Sedangkan makam yang kedua keadaanya masih asli karena belum terjamah orang yang tidak bertanggung jawab (mudah-mudahan jangan sampai). Hal yang menarik dari keberadaan Makam Tujuh ini adalah adanya inskripsi / tulisan pada kedua sisi nisan. Pada nisan sisi dalam, terdapat ukiran berbentuk logo kerajaan milik Hayam Wuruk yaitu Surya Majapahit. Di tengah-tengah logo tersebut terdapat angka tahun dalam aksara Jawa Kuna. Sedangkan di sisi luar, terdapat kaligrafi Islam yang berbunyi lailahailallah (maksud tulisan semula) namun terdapat kekurangan satu huruf sehingga tidak berbunyi sebagaimana mestinya.
Data di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa pada masa itu toleransi beragama memang dipegang sangat kuat. Agama Islam sebagai agama minor pada masa itu diberikan tempat tersendiri di dalam masyarakat sehingga mereka dapat hidup secara rukun. Contoh yang sampai saat ini masih berlangsung dapat kita jumpai di Pulau Sakenan, Bali, dimana komunitas masyarakatnya terdiri dari dua agama yakni Hindu dan Islam. Yang menarik adalah bahwa ketika salah satu kelompok agama tersebut mempunyai hajatan misalnya bersih pura, maka orang-orang yang beragama Islam akan dengan senang hati membantunya, begitu pula sebaliknya.
Dari uraian tersebut di atas kita dapat memikirkan kembali kondisi bangsa Indonesia yang notabene kaya akan kemajemukan budaya namun pada sisi yang lain sangat rawan terhadap konflik. Jika kita baca lagi sebaris kalimat pembuka di atas, maka apa yang disampaikan oleh pelajar SD itu patut kita renungkan kembali. Pesan utama yang ingin disampaikan oleh anak tersebut ialah bahwa nenek moyang kita telah mewariskan betapa indahnya nilai-nilai local wisdoms masa lalu. Apa yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu bangsa beberapa abad silam sangatlah masih rasional untuk kita ambil pelajaran pada masa kini karena pada dasarnya peristiwa-peristiwa masa lalu pasti akan terjadi lagi pada masa kini, sehingga kita dapat mengambil pelajaran untuk menapak masa depan yang lebih baik.

(pernah dimuat di harian Fajar Banten)
Selengkapnya...